![]() |
| Ilustrasi Meneladani Para Sahabat Nabi: Sumber: https://islam.nu.or.id/ |
... tapi selain itu kita tidak mengetahui ada sahabat yang hafal Al-Qur'an. Abu Bakar Umar itu tidak hafal Al-Quran ...
Jadi, ceritanya begini. Adalah dia seorang konten kreator. Namanya Guru Gembul—Saya sebut saja Pak GeGe. Pembaca kenal orang ini, kan? Sebagai konten kreator, ia populer banget di jagat Medsos. Browsing saja di internet, pasti ketemu. Namanya bahkan nangkring di ensiklopedia daring Wikipedia. Coba cek https://id.wikipedia.org/wiki/Guru_Gembul, nah itu dia.
Pak GeGe ini pernah melontarkan statement di YouTube, bahwa kata dia, para sahabat itu tidak semua hafal Al-Qur’an. Sampai di sini, statement Pak GeGe boleh jadi tidak salah, sebab setelah Nabi wafat, sahabat terhitung hampir mencapai seratus ribuan orang jumlahnya lebih kurang. Mereka tinggal terpencar di berbagai negeri, tidak hanya di Makkah dan Madinah. Jadi, sangat mungkin ada sedikit di antara ribuan sahabat yang hanya hafal dua pertiga, setengah, atau bahkan lebih sedikit dari itu hafalan Al-Qur’annya.
Boleh jadi banyak yang sudah melihat video YouTube Pak GeGe itu, lalu terkaget-kaget. Terkaget-kaget, karena boleh jadi menganggap Pak GeGe sedang “nggedabrus” saja. Boleh jadi ada yang sebaliknya, mereka terkagum-kagum dan menilai Pak GeGe ini banyak tahu hal yang jarang banyak orang tahu perihal hafalan para sahabat. Ibarat kata, Pak GeGe ini semacam “Guru Besar” sirah sahabah dengan pengetahuan seluas perpustakaan Baitul Hikmah pada era keemasan Daulah Abbasiyah.
Akan tetapi, saat Pak GeGe menyebut bahwa di antara para sahabat yang tidak hafal Al-Qur’an itu di antaranya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, duarrr! Orang yang terkaget-kaget makin menilai Pak GeGe memang sedang“nggedabrus”. Jangan-jangan, mereka menganggap Pak GeGe ini orang yang sedang mabuk popularitas sehingga dia lupa menempatkan diri di mana seharusnya dia berada dibanding Abu Bakar dan para sahabat yang disebutnya tidak hafal Al-Qur'an itu.
Sebaliknya, boleh jadi, mereka yang terkagum-kagum makin menganggap Pak GeGe orang yang berani membuka tabir. Ia dianggap berhasil mengatasi rasa ewuh pakewuh dari bicara jujur tentang sosok sahabat yang nyaris dipercaya banyak orang sebagai generasi yang paling mulia setelah Nabi.
Sebagai sisipan, dahulu, saya termasuk yang menaruh kagum pada Pak Gege ini. Namun, setelah menyaksikan video debat Pak GeGe dengan Ustaz. Nuruddin, rasa kagum itu bergeser, sudah tidak lagi presisi antara persepsi saya semula dengan fakta penampilannya saat debat berlangsung. Makin tidak presisi saat Pak GeGe berani menilai Sayidina Abu Bakar tidak hafal Al-Qur’an meskipun diawali dengan kalimat "... tapi selain itu kita tidak mengetahui ada sahabat yang hafal Al-Qur'an. Abu Bakar Umar itu tidak hafal Al-Quran ..."
Maka, saya jadi penasaran. Karena setiap jam dari waktu saya seharian bergelut dengan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)—meskipun hanya SKI selevel anak siswa Madrasah Tsanawiyah—saya ingin menguji kesimpulan Pak GeGe itu, benarkah Sahabat Abu Bakar itu tidak hafal Al-Qur’an. Sebagai guru sejarah, pastilah Pak GeGe memahami disiplin pada data dan fakta menyangkut kredibilitas seorang tokoh yang menyejarah.|
Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sangat menghormati, memuliakan, memuji Abu Bakar. Bahkan sempat Nabi mengangkat Abu Bakar sebagai imam dalam salat. Pada situasi krusial di era kenabian, Abu Bakar hadir di medan Perang Badar, Uhud, Khandaq, Baiat Ridwan di Hudaibiyah, Khaibar, Fathu Makkah, Hunain, Thaif, Tabuk, dan juga Haji Wada’.
Pada Perang Tabuk, bahkan Rasulullah menyerahkan panji besarnya yang berwarna hitam kepada Abu Bakar. Abu Bakar juga termasuk orang-orang yang tetap teguh bersama Rasulullah pada Perang Uhud dan Hunain ketika banyak orang mundur. Ia termasuk salah seorang sahabat senior yang menghafal seluruh Al-Qur’an.[1]
Maka tidak heran, bila ulama sekelas Imam An-Nawawī saja berkata dalam Tahdhīb-nya: “Aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu ‘anhu adalah salah seorang sahabat yang menghafal seluruh Al-Qur’an. Pernyataan ini juga disebutkan oleh sejumlah ulama, di antaranya Ibnu Kathīr dalam Tafsīr-nya.[2]
ʿAbd as-Sattār asy-Syaikh bahkan menyebut beberapa nama sahabat penghafal Al-Qur’an. Kata as-Sattār, di antara para sahabat yang terkenal karena hafal Al-Qur’an adalah empat khalifah, Thalhah, Sa‘d, Hudzaifah, Salim maula Abu Hudzaifah, Ibnu Mas‘ud, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, ‘Amr bin al-‘Ash, Abdullah bin az-Zubair, Mu‘awiyah, ‘Aisyah, dan Hafshah. Demikian pula dari kalangan Anshar, pada masa hidup Nabi, terdapat Ubay bin Ka‘ab, Mu‘adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu ad-Darda’, Anas bin Malik, serta banyak sahabat lainnya. [3]
Baiklah, saya tutup saja nilai kredibilitas qur’ani sahabat Abu Bakar dengan mengutip penjelasan asy-Syaikh Muḥammad ‘Ārif bin Aḥmad yang sedikit panjang. Kata beliau, tidak diragukan lagi bahwa Abu Bakar adalah seorang jami'ul Qur'an (penghimpun sekaligus penghafal Al-Qur'an). Beliau telah menghafal Al-Qur'an di luar kepala sejak masa hidup Rasulullah. Selain sebagai penghafal, beliau juga merupakan salah satu penulis wahyu yang menuliskan Al-Qur'an atas perintah Nabi. Mengingat kedudukannya tersebut, kemungkinan besar beliau juga memiliki dan menulis mushaf pribadi untuk dirinya sendiri.
Kedudukan beliau sebagai seorang hafiz diperkuat oleh fakta bahwa beliau adalah imam dari salah satu dari tujuh qira'at yang diriwayatkan dari tujuh sahabat Nabi—yang dalam salah satu penafsiran dianggap sebagai bentuk dari sab'atu ahruf (tujuh huruf) diturunkannya Al-Qur'an. Tujuh qira'at tersebut diriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abdullah bin Mas'ud, Abdullah bin Abbas, dan Ubay bin Ka'ab. Imam Al-Jazari menegaskan bahwa terdapat banyak riwayat bacaan (qira'at) Al-Qur'an yang bersumber dari Abu Bakar di berbagai tempat dalam Al-Qur'an. Secara akal maupun jalur riwayat (nukil), sungguh tidak masuk akal jika seorang imam qira'at yang memiliki riwayat bacaan khusus justru tidak menghafal Al-Qur'an.
Kealiman Abu Bakar juga diakui secara luas. Beliau memimpin jajaran sepuluh sahabat yang paling termasyhur dalam ilmu tafsir, bersama Umar, Utsman, Ali, Ibn Mas'ud, Ibn Abbas, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy'ari, dan Abdullah bin az-Zubair. Di samping itu, Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya dan An-Nawawi dalam Tahdhīb-nya secara tegas mencatat Abu Bakar sebagai salah satu sahabat yang menghafal seluruh Al-Qur'an.
Pendapat ini diperkuat oleh As-Suyuthi yang menyatakan bahwa indikasi kuat dari berbagai hadis menunjukkan Abu Bakar telah menghafal Al-Qur'an sejak masa Rasulullah. Dalam Kitab Shahih disebutkan bahwa tatkala di Makkah, beliau membangun sebuah masjid di halaman rumahnya dan rutin membaca Al-Qur'an (ayat-ayat yang telah diturunkan saat itu) di sana. Ibnu Hajar mengomentari hal ini sebagai sesuatu yang tidak perlu diragukan lagi, mengingat besarnya kesungguhan Abu Bakar dalam menyerap Al-Qur'an langsung dari Nabi , kecukupan hartanya di Makkah, serta kebersamaan mereka yang sangat erat—sebagaimana dituturkan 'Aisyah radiyallahu 'anha bahwa Nabi selalu mendatangi rumah mereka setiap pagi dan petang.
Bukti utama lainnya berasal dari hadis sahih yang memerintahkan agar yang menjadi imam shalat adalah orang yang paling pandai atau paling banyak hafalan Al-Qur'annya (aqra'uhum). Ketika Rasulullah sakit, beliau menunjuk Abu Bakar untuk menjadi imam shalat bagi kaum Muhajirin dan Anshar, yang di antaranya terdapat para qurra' (ahli Al-Qur'an). Penunjukan ini menjadi petunjuk jelas bahwa Abu Bakar adalah orang yang terbaik dan terbanyak hafalan Al-Qur'annya di antara para sahabat, sebagaimana yang ditegaskan oleh As-Suyuthi dan Ibnu Katsir.[4]|
Fenomena ini menjadi pengingat penting bagi publik dalam mengonsumsi konten edukasi di era digital. Kepopuleran seseorang di media sosial tidak serta-merta menjadikannya otoritatif dalam ilmu agama maupun sejarah. Ketika seorang konten kreator berbicara tanpa didasari kecermatan metodologis dan data yang sah, narasi yang dihasilkan bukan lagi pencerahan, melainkan penyesatan informasi. Oleh karena itu, skeptisisme ilmiah dan kebiasaan tabayyun (konfirmasi data) sangat krusial agar masyarakat tidak mudah terpesona oleh kerangka retorika yang rapuh.
Sebagai penutup, memuliakan para sahabat Nabi raḍiyallāhu ‘anhum bukan berarti bersikap taklid atau alergi terhadap diskusi sejarah, melainkan bentuk penghormatan atas integritas generasi terbaik umat ini. Menilai sosok sebesar Abu Bakar ash-Shiddiq menuntut ketelitian tinggi dan rasa hormat terhadap sanad keilmuan. Semoga kita semua, khususnya para pendidik dan penikmat konten digital, senantiasa diberi kehati-hatian dalam menyampaikan serta menerima informasi, sehingga kemuliaan para sahabat tetap terjaga dari klaim-klaim tanpa dasar.
Rujukan:
[1] Muḥammad Riḍā, Abū Bakr aṣ-Ṣiddīq Awwalu al-Khulafā’i ar-Rāsyidīn (Kairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.), hlm. 14-15.
[2] Jalāl ad-Dīn ‘Abd ar-Raḥmān ibn Abī Bakr as-Suyūṭī, Tārīkh al-Khulafā’ (Jeddah: Dār al-Minhāj, 2013 M), hlm. 120, dalam versi Al-Maktabah asy-Syāmilah pada:https://shamela.ws/book/11995/98.
[3] ʿAbd as-Sattār asy-Syaikh, Abū Bakr aṣ-Ṣiddīq: Khalīfatu Rasūlillāh ﷺ wa Thānī Itsnaini Idz Humā fī al-Ghār (Damaskus: Dār al-Qalam, 2011), hlm. 567.

.png)


.png)


