![]() |
| Kembali ke Masjid. Ilustrasi AI |
Jangan sampe, waktu masih hidup tidak pernah datang ke masjid. Pas sekalinya masuk ke masjid, bukan buat shalat, tapi buat dishalatkan.”
Begitulah, Makkah dan Madinah memang selalu memberi kesan bermakna meskipun sebenarnya sukar digambarkan dengan narasi yang sempurna. Pengalaman ini hanya bisa dirasakan. Adapun yang sanggup diceritakan hanyalah sisi-sisi luarnya saja, tidak pada kenikmatan yang melekat di hati, otak, dan perasaan, di lubuk yang paling dalam.
Sampailah pada cerita tentang kain ihram yang mengingatkan pada kain kafan.
“Rupanya, selepas shalat lima waktu di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, selalu ada shalat jenazah,” ungkapnya.
Dan, kawan ini mengaku tidak melewatkan kesempatan itu barang satu waktu pun, mengikuti arahan muthawif yang membimbing ibadah umrahnya di sana.
Persis, saat cerita sampai pada shalat jenazah, WA masuk di handphone saya mengabarkan bahwa sepupu saya—Baba Iyad—meninggal. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
@@@
Ini kesan pribadi saya tentang Baba Iyad yang berpulang kemarin, Selasa, 29 September 2027. Maafkan saya Baba Iyad, tapi ini perlu saya utarakan agar menjadi teladan buat kami yang sedang menanti masa penghabisan umur. Sebenarnya, kami yang matinya belakangan ini sedang menghitung mundur sampai detik terakhir kami semua masuk ke liang kubur.
Kami sungguh menyadari, esok atau lusa kami akan menyusul. Suka atau tidak suka, dalam kondisi sehat atau sakit, semua bakal mati. Hanya soal waktu saja. Di mana dan kapan tahunnya, di bulan apa, minggu ke berapa, di hari yang mana, jam, menit, dan detiknya saja yang kami semua tidak tahu.
Maka, mumpung kami masih ada waktu, agar yang masih hidup mengambil pelajaran, maka, kesan ini saya tuliskan juga.
Berat saya ungkapkan bahwa Baba Iyad telah menutup akhir hayat dengan “Pulang ke Masjid”. Ini titik balik hidup Baba yang sangat mahal, tapi Baba dapat membeli dan memiliki hidup Baba seluruhnya bermakna di setiap waktu berjamaah yang tersisa.
Baba mungkin tidak tahu, mamang dan encang-encing, saudara-saudara kandung, ipar-ipar, sepupu-sepupu, dan keponakan-keponakan menyambut titik balik ini dengan suka cita. Memang, mereka semua tidak mengatakannya di hadapan Baba, tapi setiap waktu, hati mereka bergemuruh haru dan berucap syukur. Boleh jadi kawan-kawan Baba di waktu muda dan orang-orang yang mengenal keseharian Baba pun, semuanya menyambut hangat kehadiranmu di masjid meski tanpa suara.
Mengapa semua orang yang mengenalmu bersuka cita? Karena setiap muslim meyakini, Allah selalu senang menerima hambanya yang kembali ke jalan-Nya, tidak peduli sudah berapa lama ia melupakannya. Karena itu, tidak ada kata terlambat untuk masuk ke masjid bagi orang yang lupa jalan menuju sampai ia menemukan kembali jalan itu walau ia harus merangkak.
Jadi, bila Allah pemilik surga saja gembira menyambut kembali hambanya yang pernah lalai, apatah lagi manusia yang masuk surganya saja ngontrak. Allah yang punya surga, sedang penghuninya adalah mereka yang diberi izin tinggal.
Baba Iyad, langkah Baba dari rumah sampai ke pintu masjid, lalu Baba kembali pulang ke rumah, tidak akan disia-siakan malaikat pencatat amal baik. Apalagi, langkah-langkah pelan kakimu di saat napasmu mulai terasa berat. Biarlah Allah yang punya otoritas menilai, bahwa di ujung usia, masjid menjadi tempat kembali jalan hidupmu yang penghabisan.
Pesan Ustaz Suranta di atas benar-benar menghentak kesadaran bila ditangkap dengan hati yang jernih. Baba Iyad, boleh jadi, Baba lebih mulia di mata Allah daripada saya.
Selamat jalan, Baba Iyad.
Madrasah, 30 September 2026.



.png)


.png)
