A homepage subtitle here And an awesome description here!

Sabtu, 20 Juni 2026

Buya Hamka dan Pelacur di Tanah Suci

Ilustrasi karakter Buya Hamka. Sumber: Suara Muhammadiyah.id

Setiap orang hanya akan dipertemukan dengan apa yang dia cari.
Jadi, begini kisahnya. 

Satu waktu, sorang pria menemui Buya Hamka. Lalu, pria ini bercerita—dengan nada miring—bahwa ia begitu terkejut karena mendapati pelacur saat ia berada di kota suci Makkah.

Mendapati cerita pria ini, Buya Hamka tersenyum, lalu menimpali bercerita bahwa beliau pun baru saja pulang dari kota-kota besar di Amerika Serikat seperti Los Angeles dan New York. Akan tetapi, Buya Hamka mengaku tidak menemukan seorang pelacur pun di sana.

Pria itu tidak percaya dan berkata, "Mana mungkin Buya? Di Makkah saja ada, apalagi di Amerika yang bebas, pasti jauh lebih banyak!"

Lagi, Buya Hamka tersenyum. Lalu, dengan bahasa yang halus Buya menjelaskan, bahwa meskipun seseorang pergi ke tempat paling suci seperti Makkah, jika fokus pikiran dan hatinya adalah hal-hal buruk, setan akan menuntunnya ke sana. Sebaliknya, jika seseorang pergi ke tempat maksiat sekalipun dengan niat mencari kebaikan, ilmu, atau berdakwah, maka ia hanya akan dipertemukan dengan berbagai kebaikan.

Ini kisah legendaris Buya Hamka yang menghentak kesadaran tentang cara pandang dan niat setiap diri. Buya Hamka dengan bahasanya yang halus, sastrawi, dan menyentuh mengajak berpikir dengan kecerdasan qalbu bahwa setiap orang hanya akan dipertemukan dengan apa yang dia cari.

Sudah dimafhum, secara naluriah, apa yang menjadikan ketertarikan mata melihat dan melempar pandangan sering kali merupakan pantulan dari apa yang ada di dalam isi hati dan pikiran. Maka, setiap orang di mana pun dia berada, selalu dihadapkan pada pilihan untuk melihat sisi positif atau sisi negatif. Sedangkan orang yang arif lagi bijak akan selalu menyaring dan mencari segala kebaikan meskipun ia tersembunyi.

Kisah Buya Hamka ini menghentak kesadaran meskipun dikemas dengan bahasa teguran yang sangat halus. Pesan moralnya agar setiap diri selalu meluruskan niat—terutama saat melakukan perjalanan atau ibadah—agar tidak terdistraksi oleh hal-hal yang tidak baik. Jangan pula memperturutkan dalil aqli untuk menilai sesuatu dengan silogisme yang terlalu mekanis.|

Pada konteks berhaji, Abdul Aziz al-Kinani asy-Syafi'i, dalam kitabnya "Hidāyatu as-Sālik Ilā al-Madhāhib al-Arba‘ah fī al-Manāsik" halaman 296 menukil kisah Abdullah bin Umar yang patut direnungkankan. Satu kali, Abdullah bin Umar melihat berbagai perhiasan, kemewahan, dan tandu-tandu yang diadakan manusia saat perjalanan haji mereka. Melihat fenomena demikian itu, beliau berkata:

"Al-ḥājju qalīlun, wal-rākibu katsīrun."

"Betapa orang yang benar-benar berhaji itu sedikit, sedangkan rombongan yang bepergian itu banyak sekali."

Boleh jadi, tidak semua orang yang pergi ke Tanah Suci dan melaksanakan manasik haji memperoleh hakikat dan kemabruran haji. Orang yang benar-benar menjadi haji—diterima hajinya dan memperoleh buah spiritualnya— jumlahnya sangat sedikit, sedangkan yang hanya melakukan perjalanan dan ritual secara lahiriah jumlahnya begitu banyak.
 
Rasanya, ungkapan Abdullah bin Umar mengingatkan pentingnya keikhlasan, ketakwaan, kesederhanaan, dan kepatuhan pada tuntunan syariat dalam menunaikan ibadah haji. Sudah barang rentu, kepatuhan kepada tuntunan syariat berhaji orang harus rela menyingkirkan arogansi akal (jidal yang membawa mudharat) untuk sementara waktu.

Memang, manusia dibekali akal. Ia sumbu kecerdasan. Tapi, akal itu harus dibimbing adab agar arogansinya bisa diredam. Sebab bila tidak, orang cenderung merasa lebih tahu segalanya, merasa lebih "jago" dari siapa pun dalam hal kecerdasan dan pemikiran.
 
Akal kecerdasan yang tidak dibimbing adab, serupa dengan frasa"Khalaqtanī min nārin wa khalaqtahu min ṭīn" yang diucapkan Iblis saat melontarkan argumen menolak perintah Allah untuk bersujud—sujud lil ihtiram, sujud penghormatan—kepada Nabi Adam Alaihissalam. "Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah" adalah ucapan arogansi Iblis merasa lebih baik dari Adam yang diabadikan dalam QS. Al-A'raf [7]: 12 dan QS. Sad [38]: 76.
 
Atsar dari sahabat mulia Ali bin Abi Thalib radhiyaalu anhu boleh jadi cukup relevan dalam konteks ini:

Law kāna ad-dīnu bir-ra'yi lakāna asfala al-khuffi awlā bil-masḥi min a‘la qad ra'aytu Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama yamsaḥu ‘alā ẓāhiri khuffaihi."
Andaikata agama dengan akal semata, tentu bagian bawah sepatu (khuf) lebih utama diusap daripada bagian atasnya. Namun sungguh, aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap bagian atas sepatunya." 

Demikian sikap menantu Rasulullah ini menilai posisi akal di sisi syariat.

Bila kisah Abdulllah bin Umar, putra Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhuma ini digabungkan dengan kisah Buya Hamka di muka, dan arogansi Iblis, maka fokus pada kebaikan diri dalam melaksanakan ibadah seyogyanya menjadi prioritas. Apatah lagi, setiap manusia akan dihisab oleh perbuatannya sendiri dan tidak diminta pertanggungjawaban amal buruk orang lain. Alaysa kadzalik?

Allāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah.
Sabtu, 5 Muharram 1448 H/20 Juni 2026 M.


Minggu, 31 Mei 2026

Jam Tangan di Tenda Mina

Kau boleh kehilangan jam tangan, tapi jangan pernah kehilangan waktu!


Barang ditemukan. Capture dari WA Pak Nanang.

Waktu baru menunjukkan pukul 01.15 pagi. Beberapa jamaah sudah berdiri khusyuk. Dini hari dua malam kemarin, tenda sudah berjubel dengan jamaah yang shalat malam. Dini hari ini, tenda sudah lebih lapang, sebab jamaah yang mengambil Nafar Awwal sudah kembali ke Makkah pada 12 Zulhijjah kemarin pagi. Ini malam terakhir mabit di Mina. 

Tidak ingin kehabisan waktu mustajab kemuliaan Mina, segera bergegas untuk buang hajat, mandi, dan bersuci. Segera, sebab sebelum Subuh harus sudah berada di Jamarat untuk melontar jumrah tanggal 12. Nanti setelah shalat Subuh, menyambung melontar untuk tanggal 13 sebagai penutup rangkaian kewajiban haji di Mina bagi yang mengambil Nafar Tsani.

Alhamdulillah, kamar mandi pun terasa lapang. Tidak pula ada drama kebelet yang bikin antrean terasa tidak putus-putus, sementara saluran kencing sudah terasa mau putus. Bila sebelumnya satu kamar mandi untuk empat orang mengantre, pagi buta ini, dua kamar mandi malah yang menunggu dimasuki untuk satu orang pengantre.

Waktu yang longgar, ada space untuk sarapan kilat dengan kecepatan empat suapan per detik. Menu Armuzna berupa nasi basmati putih dan rendang ayam kemasan yang dingin masuk juga ke perut. Kebetulan, malam tadi tidak sempat makan karena tak kuat lagi melawan kantuk. Jadi, antara lapar dan doyan, meskipun dingin tandas juga menu Armuzna yang sudah mulai kebas di lidah. Yang penting, cukup untuk bahan bakar berjalan kaki pulang pergi Jamarat menempuh jarak lebih kurang 6 kilometer. Dan pada suapan terakhir, baru menyadari jam tangan tertinggal di kamar mandi di samping tenda Mina.

Tidak ingin kehilangan momen, balik ke kamar mandi lagi. Namun, saat hati bertanya-tanya kamar mandi yang mana, ya? Yang ini, yang itu, apa yang ono? Tak satu pun dari kamar mandi yang menjawab. Wwkwkwkwk. Sudahlah, tapi, masih penasaran. Coba sekali lagi menyisir. Nihil.

"Jika masih rezeki, takkan ke mana ia pergi. Bila memang bukan rezeki, boleh jadi itulah yang terbaik." Hati bergumam begitu. Bahkan, nurani turut berbisik: kau boleh kehilangan jam tangan, tapi jangan pernah kehilangan waktu!

Kembali ke tenda, separuh jamaah sudah bergerak ke Jamarat. Tidak ingin kehilangan waktu, segera mengambil tas selempang, air, dan batu yang sudah disiapkan. Lalu, bergerak membuntuti jamaah Ustaz Zainal, Pembimbing Ibadah Kloter 21 yang humble itu. Dan, jam tangan di kamar mandi pun terlupakan.

Melontar hari ini mengambil jalan berbeda dari sebelumnya pada 10 dan 11 Zulhijah kemarin. Rutenya lebih berirama dengan panorama khas gurun yang unik dan memesona di malam hari. Maka, perjalanan terasa lebih ringan, hati riang, dan sesekali mengumandangkan takbir.

Sesampainya di Jamarat, di muka pintu masuk ada marka dengan tulisan terang: al-jamaraat lil-daur al-awwal. Oh, berarti jamaah akan melontar di lantai bawah, bukan di lantai tiga seperti kemarin. Alhamdulillah, selesai melontar. 70 kerikil telah melayang membentur pilar Awal, Wustha, dan Aqabah.

@

Sepulang dari Jamarat, teringat lagi pada jam di kamar mandi. Seakan hati ini belum sepenuhnya lega melepasnya berpisah. Apatah lagi, ada kenangan khusus, ada cerita di balik jam itu melingkar di lengan kanan sampai kemarin. Harga di balik kenangan itulah yang tidak bisa ditukar meskipun dengan kelipatan harganya yang standar, atau bahkan diganti dengan merk dan harga yang sama. Itu karena kenangan manis tidak akan pernah tergantikan.

Maka, saat hendak pulang ke Makkah, sekali lagi ikhtiar menyisir satu-satu kamar mandi sebelum mengantre naik bus. Namun, hasilnya tetap nihil. 
"Bismillah, Ya Allah saya ikhlas. Inilah takdir untuk saya yang terbaik." Demikian sekali lagi hati bergumam.

Bus sudah menunggu. Suara mesinnya menderu pelan.
 
"Naik! Naik!" Seru petugas memerintah.

Saat badan ikut berjejal di muka pintu, terdengar instruksi sebaliknya.

"Ini untuk Kloter 20!"

"Naik saja!" Seru petugas kembali memberi instruksi nyaris berteriak.
 
Ragu, naik atau menunggu saja jatah bus Kloter 21. "Ah, naik saja!" kata hati memerintah. Semua orang yang mengantre juga naik. Urusan ini bus untuk Kloter 20, itu cuma soal urutan. Yang penting sampai di Misfalah, bukan di Prindavan.
 
Buru-buru bergeser ke pintu paling belakang karena pintu depan dan pintu tengah sudah sesak antrean. Bukan pula kebetulan ada kursi kosong di barisan paling belakang. Rupanya, di kursi belakang inilah plot twist dari alur cerita jam tangan di kamar mandi berakhir happy ending.

Persis di depan dari kursi tempat saya duduk, seorang jamaah sedang membuka WA. Layar HP-nya jelas mencotot dan terbaca dari tempat saya duduk. Hati berdesir seperti sedang disapa bidadari. Terpaksalah saya membuka mata lebar-lebar agar tidak salah lihat pada pesan teks dan gambar sebuah jam tangan.
assalamualaikum.. sy menemukan jam tangan di kamar mandi kloter dekat jks20 , minta tolong dishare no hp sy 08129027452, nuhun.
Ya, Allah, Engkau Mahapemurah! Speechless. Karena Kemahabaikan-Mu ya Rabb, berat rasanya hati ini dan malu untuk menulis kehilangan di grup. Namun, kebaikan-Mu ya Rabb, lebih cepat dari embusan angin sebelum rasa berat dan malu itu hilang.

Kepada Pak Nanang yang WA-nya saya intip dari kursi belakang, terima kasih sudah membuka tabir. Jujur, saya sempat berpikir dan gagal menjawab tepat saat bapak bertanya: "Jam Bapak merk apa?"
 
Saya paham, Bapak sekadar ingin memastikan bahwa saya benar orang yang kehilangan. Ini perkara standar yang tidak sulit untuk saya mengerti. Memang begitulah semestinya, meskipun tidak harus dilakukan siapapun orang baik yang bernama "Nanang". Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "nanang" adalah kata sifat (adjektiva) yang bermakna memikirkan sesuatu dalam-dalam, merenung, atau tafakur. Dengan sifat seperti ini, boleh jadi cenderung membuat orang seperti Bapak selalu berhati-hati dalam memutuskan suatu perkara.

Akan tetapi, pertanyaan Bapak telah menyadarkan dari kelalaian tidak mengenali detail jam yang sudah menemani saya lebih dari 10 tahun. Saya hanya hafal detail fisik jam itu, tapi tidak identitasnya. Namun, sejak pertanyaan itu Bapak lontarkan, saya akan mengingatnya terus bahwa jam di lengan saya adalah Edivice Casio 126.
 
Lebih-lebih, saya perlu dan harus berterima kasih kepada Bapak Abu Bakar yang menyimpan jam saya dan mewartakannya di grup Kloter 20. Boleh jadi, otak dan hati Pak Abu Bakar kepikiran dan terbebani karena melawan instruksi: "Jangan memungut barang apa pun yang tercecer atau tertinggal di area ibadah haji."
 
Akan tetapi, jiwa "Abu Bakar" Sang Khalifah yang dermawan yang membuat Sayidina Umar pun cemburu, rupanya ada juga melekat pada pribadi Pak Abu Bakar yang ini. Allah yubarik fiik, Pak Abu Bakar.
 
Boleh jadi, Allah menggerakkan hati Pak Abu Bakar menyelamatkan jam itu bukan tanpa maksud. Allah ingin menghibur saya melalui Bapak di kursi belakang bus yang membawa kita pulang dari Mina ke Makkah, pulang dari tempat suci ke tempat yang suci pula. Ini bukan peristiwa kebetulan, ini adalah bukti Kemahamurahan Allah di Tanah Suci. Bila di tanah Khatulistiwa saja Allah Mahapemurah, apalagi di Tanah Haram. Alaysa kadzalik?
 
Misfalah, hari keempat belas. 14 Zulhijah 1447 H/31 Mei 2026 M.

Senin, 18 Mei 2026

Abrahah dan Spirit Internasionalisasi Haramain

Sekolah Dasar Hamzah bin Abdul Muthalib, Sekolah negeri untuk laki-laki. Terletak di kawasan At-Taqwa, perpanjangan Jalan Ibrahim Al-Khalil dekat daerah Al-Masfalah, Makkah. Foto pribadi. Diambil pagi hari dari kamera Infinix Hot 60 Pro. Foto hanya pemanis, tidak ada hubungannya dengan isi tulisan.

Tulisan singkat ruang.dialog.co cukup menghentak bagi sebagian pembaca. Misalnya, kalimat
: Sejak kapan Ka'bah diprivatisasi?

Jawaban dari pertanyaan bernuansa cemburu ini hanya satu paragraf dalam tulisan ruang.dialog.co. Juga tidak memadai dari sisi substansi. Boleh jadi karena ditulis di media sosial yang ruangnya terbatas. Akan tetapi, jawaban satu paragraf itu terkesan provokatif.

ruang.dialog.co melempar asumsi: "Saudi modern, yang secara efektif menyegel Haramain sebagai aset berdaulat milik dinasti mereka" kuat sekali aroma kecemburuannya—baca di https://www.instagram.com/p/DYMkx7Ck3lb/?igsh=emp1ZWozcDBtY3Bj.

Sebaliknya, Prof. Dr. Ahmad Zahroh, ulama kharismatik NU pernah menyampaikan tesis, "Andaikata Haramain tidak berada dalam penguasaan Ibnu Su'ud yang Wahabi, maka tiang-tiang Masjidil Haram pun bisa jadi dikeramatkan."

Lalu, gagasan "Internasionalisasi Al-Haramain" mulai disuarakan dengan alasan bahwa ibadah murni seharusnya tidak menjadi alat untuk memperkaya segelintir kaum elit atau mengukuhkan kerajaan tertentu di atas penderitaan struktural umatnya. Ini bukan sekadar cemburu, ini menggelikan. Apalagi imbauan "Mari kita baca sejarah peradaban ini dengan tajam, dan tanpa dogma yang membius pikiran," sebenarnya hanyalah sejarah yang berulang.|

Masya Allah, sejak era pra Islam, pengelolaan Haji dan Ka'bah sudah menjadi bagian dari hadiah Tuhan untuk bangsa Arab. Maka, kalimat "Sejak kapan Ka'bah diprivatisasi?" Layak juga kita selisik, apa motif di balik pertanyaan ini.

Kita semua tahu, Haji dan Ka'bah seperti dua sisi dari satu mata uang. Sejak kapan? Tentu sejak dahulu, sejak sebelum era kenabian Muhammad SAW. Lalu, siapa yang menghendaki Haji dan Ka' bah itu letaknya di Makkah?

Tentu, itu bukan kemauan Muhammad SAW, bukan hasrat suku Quraisy, bukan pula kehendak penduduk  Makkah. Ia kemauan pemilik Baitul 'Atiq sendiri, Allah SWT. Karena itu, bicara Haji dan Ka'bah tidak mungkin lepas dari persoalan dogma, persoalan teologi.

Haji dan Ka'bah menyatu dengan institusi Al-Hijabah dan Al-Siqoyah. Keduanya menjadi jabatan paling bergengsi dalam konteks ini. Dua jabatan inilah yang bersinggungan langsung dengan layanan Haji sejak era pra Islam.

Al-Hijabah, atau pemegang kunci dan penjaga pintu Ka'bah menjadi otoritas Bani Abdu al-Dar dan diteruskan oleh Bani Syaibah. As-Siqayah, penyedia air minum bagi para jamaah haji, dipegang oleh Bani Hasyim, kakek moyang Rasulullah SAW. Dan sekarang dipegang oleh pemerintah Ibnu Su'ud dalam konteks pemerintahan kerajaan modern.

Memang sejak dahulu, setiap musim Haji datang, perputaran uang di Makkah dari aktivitas dagang meningkat pesat. Uang dari jemaah Haji dari penjuru dunia terpusat di sini, bukan di kampung halaman penulis di ruang.dialog.co itu. Boleh jadi, dia sedang cemburu, lalu melontarkan pertanyaan soal privatisasi Ka'bah.

Mari kembali ke masa silam, pada akhir abad keenam menjelang kelahiran Nabi SAW. Siapa yang cemburu atas anugerah Tuhan kepada penduduk Makkah dari efek ekonomi ritual Haji dan kemuliaan Ka'bah ini? Dialah Abrahah, seorang jenderal dari Kerajaan Aksum (Ethiopia) yang menjadi penguasa di Yaman pada abad ke-6 M.

Abrahah melihat Ka'bah tidak hanya sebagai simbol teologi. Kedatangan para peziarah di setiap musim Haji dari penjuru Jazirah Arabia yang membawa keuntungan Bani Hasyim, suku Quraisy, dan penduduk Makkah menjadikan Ka'bah dilihatnya dari sisi politik dan ekonomi. Di sana ada uang dan otoritas kekuasaan.

Abrahah ingin mengalihkan perhatian para peziarah dengan membangun "Ka'bah" baru di Yaman. Dia berharap otoritas politik dan ekonomi pindah ke Yaman. Akan tetapi, "Ka'bah" baru ini tidak laku, tidak punya daya jual, baik secara politik dan ekonomi. Para peziarah tetap mengunjungi Ka'bah dan terus memberi keuntungan politik dan ekonomi kepada suku Quriasy dan penduduk Makkah di setiap musim haji.

Secara dogma, memang, siapa yang bisa mengalihkan panggilan Allah untuk berhaji mengunjungi Baitullah yang transenden dengan panggilan politik dan ekonomi yang profan?

Merasa usahanya merebut otoritas haji dan Ka'bah sia-sia, Abrahah marah. Alasan ini mendorong Abrahah mengambil langkah kekerasan. Dia dengan pasukan bergajah menginvasi Makkah untuk merebut dan menghancurkan Ka'bah. Akan tetapi, Abrahah dan pasukan bergajahnya mati mengenaskan sebelum hasrat cemburunya terpenuhi seperti dikisahkan dalam surat Al-Fiil.

Abrahah lupa, yang ingin dia rebut sebenarnya bukan otoritas Quraisy atas Haji dan Ka'bah, tapi otoritas Tuhan yang dititipkan kepada Quraisy dan penduduk Makkah. Dia tidak mau haji dan Ka'bah diprivatisasi suku Quraisy dan penduduk Makkah saat itu. Boleh jadi, karena yang ada di benak Abrahah hanya uang dan kekuasaan manusia.

Maka, ajakan "Mari kita baca sejarah peradaban ini dengan tajam dan tanpa dogma yang membius pikiran" hanyalah pikiran Abrahah yang dipindahkan ke dalam pikiran manusia di era modern. Seruan "Internasionalisasi Al-Haramain" pun, yang memisahkan dogma teologi dalam Haji dan Ka'bah kayaknya hanya meniru  style isi kepala Abrahah saja.

Hari ke-3 di Misfalah, Sektor 8. Senin, 1 Zulhijjah 1447 H/18 Mei 2026 M.


Kamis, 12 Maret 2026

Kedegilan AS Israel dan Psikologis Calon Jemaah Haji 2026

Suasana Madinah hari ini. Screenshoot layar Streaming Madinah Live Today, Ar Rahman. Live Streaming  mulai 7 Maret 2026.

Lu pikir, di tengah lautan itu selalu aman? Meskipun kagak perang, kalo ade badai, terus kapal yang gue tumpangin tenggelem, ape bedanye kapal tenggelem karena dihantem badai, ato sebab ditembak pelor? Same aje, Sadeli!

Pada April 2021, novel “Pengantin Fort van der Capellen; Romansa Tanah Batavia & Padangsche Bovenlanden” terbit. Ini novel keenam yang saya tulis dengan durasi cukup panjang, sepadan dengan waktu penulisannya yang hampir lima tahun sejak 2017. Ruh novel sepanjang 505 halaman ini adalah religiusitas, patriotisme, pluralitas etnik, dan tentu saja hal yang paling menarik dari sebuah novel, yaitu asmara dan percintaan.

Setting waktu novel ini tahun 1896-1917, saat Perang Dunia I masih berkecamuk. Saya menemukan momentum kontekstual dari satu paragraf pada halaman 436. Ada dialog karakter pembantu yang membuat saya ngilu dengan invasi AS dan Israel atas Iran yang memicu perang hari ini dan sudah memasuki hari ke-12. Banyak pihak yang khawatir, invasi ini akan memicu Perang Dunia III. Mengerikan. Bagaimana dengan jamaah haji yang akan berangkat tahun ini?

“Lu pikir, di tengah lautan itu selalu aman? Meskipun kagak perang, kalo ade badai, terus kapal yang gue tumpangin tenggelem, ape bedanye kapal tenggelem karena dihantem badai, ato sebab ditembak pelor? Same aje, Sadeli!”

Paragraf di atas adalah sepenggal dialog Haji Dullah dengan adiknya Sadeli, dua karakter pembantu dalam novel ini. Sadelih menjelaskan kondisi urusan haji saat itu. Perang Dunia I yang melibatkan koalisi Turki-Jerman membuat De Kongsie Tiga—sebuah perusahaan perjalanan haji yang mengatur pengangkutan serta pelayanan jamaah haji dari Hindia Belanda menuju ke Hijaz—maskapai laut yang dinaungi Pemerintah Hindia Belanda tidak berdaya mendapat ultimatum pemberhentian sementara pelayanan angkutan.

Akan tetapi, Haji Dullah yang keras kepala tetap ingin berangkat haji pada 1917 itu. Sadeli hanya mengeluh, keras kepala abangnya itu tidak berubah sejak dahulu. Apa saja hal kebenaran yang sudah diyakini, pantang dia surut ke belakang. Kalau sudah begitu, tidak ada kata-kata yang mempan buat mengubah tekad Haji Dullah.

Pada 1817, Perang Dunia I—28 Juli 1914 – 11 November 1918—belum berakhir. Konflik global ini meletus setelah pembunuhan Archduke Franz Ferdinand dari Austria-Hungaria dan melibatkan Blok Sentral—Jerman, Austria-Hungaria, Ottoman—melawan Blok Sekutu—Inggris, Prancis, Rusia, dan AS—baru berakhir dengan gencatan senjata pada 1918. 

Perang Dunia I berdampak bagi jamaah haji Indonesia. Pada bulan Haji 1333 H/Oktober 1915 M, tidak ada umat Islam Indonesia yang datang ke Makkah untuk berhaji. Pada 1335 H/1916-1917 M, hanya ada 70 orang jamaah haji dari Indonesia dan 48 orang jamaah haji pada musim haji tahun 1336 H/1917-1918 M yang berlayar dari dari Malaka.

Saat novel ini ditulis, saya tidak membayangkan selintasan pun situasi yang sama yang dialami karakter Haji Dullah bakal terulang pada 2026 ini. Memang, sebagai penulis, saya berusaha masuk dalam konflik batin sang karakter menghadapi situasi itu sewaktu menarasikan pendirian Haji Dullah yang tegar. Tapi, dunia Haji Dullah adalah dunia novel, bukan dunia nyata, meskipun Perang Dunia I dalam setting cerita Haji Dullah adalah fakta sejarah. Sebagai penulis, saya lupa memprediksi dalam narasi bilamana situasi yang sama terjadi untuk 109 tahun kemudian pada musim haji tahun 1447 H/ 2026 M ini.

Memang, musim haji tahun ini masih tersisa sekitar dua bulan dari sekarang dalam hitungan tahun Qamariyah. Sementara belum ada jaminan konflik AS dan Israel dengan Iran berakhir dalam satu atau dua bulan ke depan. Malah, eskalasi perang rudal dari pihak yang bertikai makin meningkat. |

Tidak terbayang perasaan calon jamaah haji tahun ini. Apalagi di tengah arus informasi perang yang serba cepat dan bisa diakses dalam hitungan detik. Ironisnya, perang hari ini ingin melibatkan negara-negara Timur Tengah, termasuk Saudi di mana satu-satunya lokus ibadah Haji hanya ada di Makkah dan Madinah. Allahu Akbar.

Memang, belum ada berita yang sampai bahwa kondisi Makkah dan Madinah chaos. Kekhawatiran sempat naik saat Aramco, kilang minyak Saudi di Ras Tanura, Provinsi Timur, Arab Saudi
diserang drone hingga terbakar. Namun, dua Tanah Haram masih aman dari dampak perang. Hanya berita jamaah Umrah dari Indonesia tertahan kepulangannya karena situasi penerbangan yang belum sepenuhnya kondusif.|

Membaca hasil Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Haji dan Umrah RI dengan agenda "Pembahasan terkait Persiapan Menghadapi Keadaan Darurat dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1447 H/2026 M serta Isu-isu Aktual" tidak juga membuat hati belum sepenuhnya tenang.

Di tengah eskalasi di Timur Tengah, hasil rapat merancang tiga skenario. Skenario 1: Jemaah haji tetap berangkat di tengah konflik dengan melakukan mitigasi jalur udara, yakni pengalihan rute penerbangan ke jalur yang lebih aman, melakukan diplomasi keamanan untuk mendapatkan jaminan koridor aman bagi jemaah haji Indonesia sebagai non-kombatan, serta penerapan protokol evakuasi darurat pada saat pelaksanaan ibadah haji;

Skenario 2: Indonesia membatalkan keberangkatan meskipun Pemerintah Arab Saudi tetap membuka pelaksanaan ibadah haji secara normal. Jika skenario ini yang ditetapkan, maka Menteri Haji dan Umrah RI harus bernegosiasi agar biaya layanan yang telah dibayarkan tidak hangus;

Skenario 3: Pemerintah Arab Saudi menutup pelaksanaan ibadah haji sehingga Indonesia juga tidak memberangkatkan jemaah. Pada skenario ini, fokus utama pada pengamanan berbagai dana yang telah dibayarkan untuk dapat kembali utuh 100%.

Berharap kemuliaan Ramadhan dan berkah Lailatul Qadar yang Allah izinkan, saya ingin setegar Haji Dullah, sambil berharap situasi Timur tengah kembali normal. Kedegilan pemerintah AS dan Israel kepada kaum Muslimin dan negara-negara Islam di Timur Tengah memang menjengkelkan. Mereka tidak peduli sudah mengganggu psikologis event besar seperti haji yang menyakiti kaum muslimin di seluruh dunia. Catat! Kedegilan mereka tidak akan pernah berhenti sampai para pemimpin ambisius dan Zionis itu semua mencium tanah. 

Ḥasbunallāhu wa ni‘mal-wakīl, ni‘mal-mawlā wa ni‘man-naṣīr. Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia sebaik-baik pelindung. Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.|

Depok, 12 Maret 2026.


Irkab Ma‘anā dan Sekeranjang Rutob

 

Kurma Rutob. (Sumber: Halo Doc)

Sekarang kita sudah berada di perahu yang sama. Irkab ma‘anā.
Kemarin, Rabu 11 Maret 2026, acara buka puasa bersama guru dan karyawan Madrasah Pembangunan berlangsung di sela rintik hujan. Suasana puasa yang teduh, jadi tambah adem dan khidmat.

Sebelum azan berkumandang, tidak ada yang berani berbuka duluan meskipun ngumpet-ngumpet selain menyimak sambutan, wejangan, dan pengantar berbuka. Barulah setelah adzan mengalun, teh dan air putih diseruput, lontong dan kurma dieksekusi. Sesederhana itu sebuah kedisiplinan yang dibangun melalui puasa.

Akan tetapi meskipun sederhana, ini pola yang mengagumkan. Ada nilai-nilai karakter di mana kesadaran menjaga diri dari perkara yang dilarang betul-betul dijaga sampai datang waktunya ia diperkenankan. Hanya Islam yang punya aturan main ini yang diterima setiap muslim dengan sikap “sami’na wa atho'na”.

Apabila kedisiplinan ini diterjemahkan dalam lingkungan kerja, terbayang, akan luar biasa dampaknya bagi ketaatan pada regulasi, kedisiplinan dan keterbukaan penggunaan anggaran, dan sudah barang tentu kedisiplinan akan melekat pada setiap individu di lingkungan kerja masing-masing.

Dalam sambutannya sebelum berbuka, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyinggung soal kepatuhan ini dengan istilah “profesional”. Rektor menyebut MP sebagai kapal yang jangkarnya sudah dipasang kembali di UIN sebagai induknya supaya ajeg. Secara terbuka, Rektor menyatakan tidak memasang jangkar itu di halaman rumahnya, sebab MP bukan milik individu Rektor dan kelompok orang perorang lalu disambung dengan mengutif frasa “irkab ma‘anā”. 

Wah, sebatas nalar saya yang bisa-biasa saja, rasanya, ini pesan paling lugas sepanjang sambutan Pak Rektor. Irkab ma‘anā itu, bukan perumpamaan sekadar soal perahu dan jangkar an sich. Ini soal pesan moral seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya.

Karena tergelitik, di rumah, iseng membuka tafsir Ibnu Katsir untuk memuaskan rasa penasaran karena kutipan Pak Rektor atas kisah Nabi Nuh dan putranya ini.

Wa hiya tajrī bihim fī maujin kal-jibāli, wa nādā Nūḥu ibnahu wa kāna fī ma‘zilin yā bunayya irkab ma‘anā wa lā takun ma‘a al-kāfirīn.

“Bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung-gunung. Nuh memanggil anaknya, sedang dia (anak itu) berada di tempat (yang jauh) terpencil, “Wahai anakku, naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud [11]: 42)

Oleh Ibnu Katsir, ayat ini ditafsirkan sebagai: “Hādzā huwa al-ibnu ar-rābi‘u, wa-ismuhu “Yām”, wa kāna kāfiran, da‘āhu abūhu ‘inda rukūbi as-safīnah an yu’mina wa yarkaba ma‘ahum wa lā yaghraqa mitsla mā yaghraqu al-kāfirūn.”

Kira-kira, artinya sebagai berikut:” Ini adalah putra yang keempat, namanya adalah 'Yam'versi lain namanya Kan'an. Ia adalah seorang yang kafir. Ayahnya (Nabi Nuh) mengajaknya ketika hendak naik ke kapal untuk beriman dan ikut naik bersama mereka agar tidak tenggelam sebagaimana tenggelamnya orang-orang kafir."

Semula dahi berkerut. Apa iya? Saat ajakan Pak Rektor itu dilontarkan, berarti saya masih dianggap “kafir” atau “pembangkang”, dong? Kan, saya sudah salaman di kalender. Heee …

Saya ingat-ingat kembali penggalan kalimat Pak Rektor pada bagian ini. Payah juga mengurai satu-satu tumpukan memori meskipun belum 24 jam sambutan itu berlalu. 

“Sekarang kita sudah berada di perahu yang sama. Irkab ma‘anā.” 

Naaah. Dapat!

Alhamdulillah. Clear. Pak Rektor sedang menyeru saya dan yang hadir kemarin sebagai orang-orang yang sudah masuk perahu MP, “umat”nya yang sudah patuh pada khittah MP yang sekarang.

Jadi, dalam konteks kemarin, seruan Pak Rektor itu bukan ditujukan untuk yang belum naik, atau yang enggan naik perahu MP bersama Rektor, seperti Yam yang menolak saat diajak naik bahtera bersama ayahnya agar selamat. Bukan. Lagi pula dalam sambutannya kemarin, Pak Rektor tidak sekali pun menyebut: “Hai, kamu Kan’an!” 

Legalah hati ini. Apalagi THR sudah cair. Pas, memang lagi kepengen sekeranjang rutob. Mantap Pak Agung!

Semoga penumpang perahu MP semakin profesional dan sejahtera seperti harapan Pak Rektor dan kita semua. Aamiin.

-------

Kamis, 13 Maret 2026. Hari ke-23 Ramadhan bagi saya dan hari ke-22 bagi Syaikhuna Ustaz Zaki al-Hafidz dan Ustaz H. Romli yang jenaka. Ah, bahagianya menikmati harmoni dalam selisih ganjil-genap. Mohon maaf lahir batin.

Senin, 09 Februari 2026

Kemajuan Peradaban Pada Masa Daulah Umayyah

Masjid Umayyah, Suriah Foto: Shutter Stock

A. Kemajuan Bidang Budaya (Arsitektur, Seni, dan Bahasa)

Pada masa Daulah Bani Umayyah, kemajuan dalam bidang sosial budaya ditandai dengan kemajuan beberapa cabang seni budaya seperti seni bahasa, seni suara, seni rupa, dan seni bangunan atau arsitektur.

Kemajuan seni bahasa terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik. Pada masa itu terjadi penyeragaman bahasa, terutama dalam bidang administrasi dan pemerintahan. Bahasa Arab menjadi bahasa resmi. Ini berdampak pada kemajuan bahasa Arab yang cukup berarti pada masa itu.

Seni ukir dan seni pahat merupakan bidang seni rupa yang berkembang pesat. Khat Arab (kaligrafi) menjadi motif ukiran yang sangat dominan pada tembok bangunan masjid,istana, dan gedung-gedung. Khat yang ditampilkan berupa ayat Alquran, hadis, atau syair yang dipahat dan diukir menjadi hiasan yang sangat indah. Yang taerpopuler,di antaranya, gaya Tumar, Jalil, Nisf, Sulus, dan Sulusain. Tokoh kaligrafi kenamaan Bani Umayyah adalah Qutban al-Muharrir.

Contoh kemajuan dalam bidang ini dapat dilihat pada dinding Qashr Amrah (Istana Mungil Amrah), sebuah istana musim panas yang dibangun oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik. Terletak di daerah pegunungan, sebelah timur Laut Mati sekitar 50 mil dari kota Amman, Yordania.

Masjid Baitul Maqdis di Yerussalem, Palestina, yang terkenal dengan Kubah Sakhrah, yaitu kubah batu yang didirikan pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 691 M, merupakan contoh hasil kreativitas seni arsitektur peninggalan kejayaan Daulah Bani Umayyah.

Selain Masjid Baitul Maqdis, Masjid Umawi, masjid indah dengan gaya arsitektur tinggi terdapat di Damaskus yang dibangun oleh Walid bin Abdul Malik sebagai masjid istana. Ruangan masjid ini dihiasi oleh berbagai ornament yang terbuat dari batu pualam (marmer) dengan bentuk mosaik yang indah.

B. Kemajuan Bidang Administrasi Pemerintahan

Pemerintahan Daulah Bani Umayyah berlangsung selama hampir satu abad (41-132 H/661-750 M). Sepanjang kurun itu, meskipun banyak persoalan politik dan ekonomi yang dihadapi, roda pemerintahan berjalan dengan baik dan lancar karena ditopang oleh lembaga administrasi pemerintahan yang rapi. Lembaga administrasi pemerintahan ini sekaligus merupakan bentuk kemajuan Daulah Bani Umayyah.

Sebagai bagian dari kebijakan untuk menyatukan berbagai daerah di bawah kekuasaan Islam, Khalifah Abdul Malik bin Marwan memperkenalkan koin emas Umayyah pertama sebagai mata uang pada 691M. Dalam waktu. singkat, koin-koin Islam tersebut menggantikan semua koin Sassania dan Bizantium di wilayah yang dikelola Muslim.

1. Organisasi Politik (an-Nizam as-siyasi)

Organisasi ini dibentuk untuk mendukung orientasi pemerintah pada upaya perluasan wilayah kekuasaan dan penguatan politik militer. Model yang diadopsi adalah model administrasi pemerintahan Persia, Yunani, dan Romawi menyangkut sistem penggantian pucuk pimpinan, sistem politik, militer, administrasi pemerintahan dan lain-lain. Adapun lembaga emerintahannya terdiri dari:
  • Khilafah (kepala negara)
  • Wizarah (kementerian)
  • Kitabah (kesekretariatan),
  • Hijabah (pengawal pribadi khalifah)
2. Organisasi Tata Usaha Negara (an Nizham al-Idary)

Daulah Bani Umayyah membagi kekuasaannya dalam dua wilayah pemerintahan; pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah. Pembagian ini merupakan bentuk kemajuan dari organisasi Tata Usaha Negara. Khalifah merupakan pemegang kendali pemerintahan pusat dan semua pemerintahan wilayah atau daerah. Pemerintahan daerah atau wilayah dipegang oleh gubernur yang disebut wali. Untuk memperlancar tugas-tugas pemerintahan, dibentuk diwan:
  • Diwan al-Kharraj (departemen pajak);
  • Diwan ar-Rasail (departemen pos dan persuratan);
  • Diwan al-Musytaghilat (departemen pekerjaan umum);
  • Diwan al-Khatam (departemen arsip).
3. Organisasi Keuangan Negara (an Nizham al-Maaly)

Pengelolaan keuangan negara pada masa Bani Umayah adalah dikelola dengan lembaga-lembaga berikut:
  • Baitul Mal
  • kharraj, pajak penghasilan dari tanah pertanian;
  • jizyah, pajak pendapatan yang diperoleh dari pajak individu sebagai bentuk konkret dari perlindungan negara atas jiwa dan keluarga masyarakat, terutama masyarakat non muslim
  • ’usyur, yaitu sepersepuluh yang dikenakan kepada para pedagang asing yang mengimpor barang dagangannya ke wilayah kekuasaan Daulah Bani Umayyah.
4. Organisasi Kehakiman (an-Nizham al-qadha)

Peradilan pada masa Daulah Bani Umayyah memiliki dua ciri yang sangat penting. Pertama, hakim memutuskan perkara menurut hasil ijtihadnya sendiri dalam hal-hal yang tidak ada nash atau ijma’ dan berpedoman kepada Alquran dan As-Sunnah. Kedua, lembaga peradilan pada masa itu belum dipengaruhi oleh penguasa.

Lembaga-lembaga pewradilan terdiri sebagai berikut:
  • Al-Qadha, merupakan tugas qadhi dalam menyelesaikan perkara-perkara yang berhubungan dengan agama.
  • Al-Hisbah merupakan tugas al-muhtasib (kepala hisbah) dalam menyelesaikan perkara-perkara umum.
  • An-Nazbar fi-al-Mazbalim, merupakan mahkamah tinggi atau mahkamah banding dari mahkamah di bawahnya (al-qadha dan al-Hisbah).
5. Organisasi Ketentaraan (an-Nizham al-Harbi)

Pada masa Daulah Bani Umayyah hanya orang-orang Arab atau keturunannya yang boleh menjadi panglima tentara. Sementara orang non Arab atau keturunan Arab tidak mendapatkan kesempatan dan bahkan tidak diperbolehkan menjadi panglima tertinggi di dalam ketentaraan. Pemerintahan memberlakukan undang-undang wajib militer yang dinamakan ‘Nidhomul Tajnidil Ijbary”.

Formasi pasukan:Qolbul Jaisy, komandan pasukan.
  • Al-maimanah, yaitu pasukan sayap kanan,
  • Al-maisaroh, yaitu pasukan sayap kiri,
  • Al-mutaqaddimah, yaitu pasukan terdepan,
  • Aaqah al-Jaisyi, posisi paling belakang.
Di belakang pasukan tempur:
  • Rid, yaitu pasukan logistik;
  • Talaiyah, pasukan pengintai atau intelejen.
Pasukan tempur terdiri dari: 
  • farsan, yaitu pasukan berkuda (kaveleri)
  • Rijalah, pasukan pejalan kaki ( infanteri)
  • Ramat, yaitu pasukan pemanah.

Kemajuan Peradaban Islam Pada Masa Ayyubiyah


al-Madrasa al-Zahiriyeh: Sebuah sekolah keagamaan dan mausoleum megah. Sumber foto:https://nawafir-tours.com/al-madrasa-al-zahiriyeh/

A. Kemajuan Bidang Pendidikan

Damaskus memang memesonakan. Ibnu Battuta (1304-1368 M), penjelajah muslim ternama asal Maroko satu kali menginjakkan kakinya di Damaskus. Ibnu Batuta begitu terpesona melihat kehidupan sosial masyarakat Damaskus yang dermawan dan pemurah. Banyak lembaga amal berdiri untuk membantu masyarakat miskin. Orang-orang kaya Damaskus berlomba-lomba mewakafkan tanahnya untuk pendirian sekolah, rumah sakit serta masjid.

Penjelajah muslim lainnya, Ibnu Jubair mencatat pesatnya perkembangan ilmu di Damaskus. Saat bertandang ke kota itu pada tahun 1184 M, dia menyaksikan begitu banyak fasilitas bagi pelajar asing dan pengunjung di Masjid Umayyah karena kemakmuran dan kedermawanan masyarakat Damaskus. Tidak sedikit pelajar yang ingin meraih sukses datang ke kota ini untuk belajar karena fasilitas dan bantuan sangat melimpah.

Memang, Damaskus sudah populer menjadi pusat ilmu dan pendidikan sejak era Nizhamul Mulk ( 1064 –1092 m) penguasa Seljuk, jauh sebelum era Ayyubiyah. Sepeninggal Nizam, pada abad pertengahan, di seantero kota Damaksus bermunculan madrasah atau universitas. Tercatat ada sekitar 73 perguruantinggi, 41 universitas di Yerussalem, 40 universitas di Baghdad, 14 perguruan tinggi di Aleppo, 13 universitas di Tripoli, serta 74 perguruan tinggi di Kairo. Ada pula yang menyebutkan, sebenarnya jumlah perguruan tinggi di Damaskus pada era kejayaan Islam mencapai 150 buah. Madrasah favorit dan terbaik di dunia saat itu ada di Damaskus, yaitu madrasah Al-Nuriyyah Al-Kubra yang didirikan oleh Khalifah Nuruddin. Tidak heran, pada masa Ayyubiyah pun, Damaskus tetap menjadi pusat ilmu dan pendidikan.

Pembangunan-pembangunan madrasah menjadi contoh kemajuan bidang pendidikan masa Ayyubiyah. Lembaga-lembaga pendidikan yang dibangun bukan hanya bertujuan untuk pendidikan formal semata, melainkan juga untuk penyebaran Islam Sunni. Pembangunan madrasah terjadi di berbagai kota seperti di Aleppo, Yerussalem, Kairo dan Iskandariyah.

Bahkan, meski Ayyubiyah menganut teologi Sunni dan bermazhab Syafi’i, pemerintah juga membangun lembaga pendidikan untuk mazhab-mazhab fikih lain, seperti Hanafi, Hanbali dan Maliki. Meskipun, pembangunan lembaga pendidikan mazhab Syafi’i lebih mendominasi. Tapi hal tersebut menunjukkan bahwa Shalahuddin tidak menutup kesempatan kepada masyarakat untuk mempelajari mazhab lain.

Kesejahteraan guru dan siswa pada masa itupun sangat terjamin. Para guru selain dibayar, mereka juga diberi tempat tinggal dan hidup bersama siswa. Siswa di sana juga diwajibkan untuk tinggal di asrama yang telah disediakan. Kebijakan ini bertujuan agar siswa mendapatkan kesempatan belajar yang cukup leluasa. Mereka tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan, melainkan juga keterampilan lainnya bersama guru.

Intensitas pertemuan mereka dengan gurunya juga sangat banyak. Saat itu, lembaga pendidikan menjadi tempat yang sangat bergengsi. Orang-orang yang hendak bekerja di pemerintahan harus dipastikan telah lulus dari lembaga pendidikan tersebut.

Perhatian kepada guru juga sangat tinggi. Sejarah mencatat bahwa di antara waktu di mana guru mendapatkan gaji yang tidak terlalu besar adalah di masa Dinasti Ayubiyah. Hal ini karena saat itu negara sedang fokus kepada membangun angkatan perang dan program-program militer guna menghadapi pasukan salib yang menjajah sebagian wilayah kaum muslimin termasuk al Quds.

Al Imam Suyuthi rahimahullah menyebutkan, salah satu perhatian Sultan (Shalahuddin) pada masa itu kepada pendidikan adalah memberikan kepada setiap pengajar gaji sebesar 40 dinar dalam setiap bulan (sekitar 156 juta kurs rupaih) dan untuk para pengelola madrasah sekitar 10 dinar (39 juta). Lalu selain gaji pokok beliau juga memberikan tunjangan setiap harinya makanan pokok sebesar 60 rithl Mesir (kurang lebih 10 kg).

Selain madrasah-madrasah tersebut, Al-Azhar, madrasah paling berpengaruh sejak masa Dinasti Fathimiyah, seiring dengan kebijakan penyebaran paham Sunni yang dianut oleh Dinasti Ayyubiyah di bawah kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi, visi dan misi pendidikan di Al-Azhar pun ikut berubah dari Syi’ah menjadi Sunni.

Al-Azhar yang semula hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama pun terus berkembang dengan membuka kelas untuk mempelajri ilmu fisika, kimia, astronomi, biologi dan ilmu hitung. Tidak sedikit para pelajar datang dari luar negeri. Begitu juga dengan tenaga pengajarnya didatangkan dari luar negeri, seperti Abdul Latif Al-Baghdadi, seorang ahli ilmu Mantiq dan ilmu Bayan, Abu Abdullah Al-Qudha’i, ulama ahli Fikih, Hadits dan Sejarah, Al-Hufi, ahli bahasa, Abu Abdullah Muhammad bin Barakat, seorang ahli Nahwu, dan Hasan bin Khatir, ahli ilmu tafsir dan Fikih Madzhab Hanafi.

Selain membangun madrasah-madrasah, untuk menunjang pendidikan, Dinasti Ayyubiyah juga membangun banyak pasar buku. Di Mesir, pasar buku dibangunnya di sebelah timur Masjid Amr bin Ash. Di Suriah juga dibangun fasilitas penjualan buku. Buku-bukunya terkadang didatangkan dari penjuru negeri.

Perhatian kepada para pengajar pun sangat besar. Ilmuwan bernama Najmuddin Al-Khabusyani (587 H/1191 M) diberikan wewenang menangani pengajaran pada madrasah Ash-Shalahiyah, Mesir, digaji 40 dinar perbulan plus 10 dinar sebagai konselorMadrasah. Selain itu beliau juga mendapatkan tunjangan berupa roti, lauk dan air. Syekh Majduddin Muhammad bin Muhammad Al-Jini, pengajar di As-Saifiyyah, setiap bulan digaji 11 dinar serta tunjangan kehidupan lainnya.

Selain kota pendidikan, Damaskus juga terkenal sebagai kota ulama. Tidak sedikit ulama dan intelektual yang lahir, atau pernah belajar dan mukim, atau mengajar serta menorehkan karya besarnya di kota ini. Di antara mereka ada Imam Ibnu Qudamah. Nama lengkapnya Imam Al-Muwaffaq Ibn Qudamah (451-620 H/1147-1223 M). Beliau lahir di Palestina, menuntut ilmu ke Damaskus dan Bagdad, tetapi kiprah intelektual dan dakwahnya di Damaskus. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Mugni fii Syarh Mukhtashar Al-Khiraqi sebuah ensiklopedi hukum Islam bercorak Madzhab Hambali.Berikutnya Imam ‘Izzudin bin Abdissalam As-Syafi’i (577-660 H/1181-1262 M). Nama lengkapnya Abdul Aziz bin Abdissalam bin Abi Al-Qasim As-Sulmi Ad-Dimasyqi. Lahir dan menuntut ilmu di kota Damaskus. Gelarnya Sulthan Al-Ulama (pemuka para ulama). Beliau besar dalam tradisi fikh madrasah Syafi’i yang menjadikannya ahli di bidang fikih, ushul fikih, dan hadits. Karya-karya beliau antara lain Al-Qawa’id Al-Kubra, Al-Qawa’id Al-Shugra, Mukhtashar Shahih Muslim, Al-Fatawa Al-Mishriyah, Bidayah As-Suul fii Tafdhil Ar-Rasul, Maqashid Ar-Ri’ayah dan lain-lain.

Setelah berlalu lebih dari 50 tahun era Dinasti Ayyubiyyah, para ulama Damaksus yang fenomenal antara Syeikhul Islam Ibn Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M), Imam Al-Hafizh Adz-Dzahabi (673-748 H/1275-1347 M), Tajuddin As-Subki (727-771 H/1327-1370 M), Ibn Qayim Al-Jawziyah (691-751 H/1292-1350 M), Imam Al-Hafizh Ibn Katsir (700-774 H-1300-1372 M), Imam Ibn Rajab Al-Hanbali (736-795 H/1336-1393 M), Imam Ibn Al-Jazari (751-833 H/1350-1429 M), Jamaludin Al-Qasimi (1283-1332 H/1866-1913 M), Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (1332-1420 H/1914-1999 M), dan Syekh Ali Musthafa At-Thanthawi (327-1420 H/1909-1999 M).

B. Kemajuan Bidang Kesehatan

Nuruddin Zanki (1118 – 1174 M), seorang sultan di Suriah yang sangat shalih dan menyintai para ulama, di mana Ayah dan paman Shalahuddin merupakan orang-orang kepercayaan yang bekerja di bawah pemerintahan Nuruddin Zanki saat itu lebih dahulu memberikan perhatian bidang kesehatan. Nuruddin membangun Bimaristan al-Nuri di Aleppo. Secara perencanaan, rancang bangun, serta manajemen, ia sejalan dengan konsep rumah sakit di masa kini. Ibnu Abi Usaibiah (wafat 1269 M), seorang dokter dan sejarawan, pernah bekerja dan belajar di Bimaristan al Nuri. Sebagaimana dicatatnya dalam buku ‘Uyunul Athibba’ fi Thabaqatil Athibba’, ruang Bimaristan al Nuri ini dibagi menjadi tiga bagian utama: bangsal untuk ruang rawat inap pasien; ruang periksa dokter –seperti ruang poliklinik; serta ruang pendidikan dan penelitian di mana para dokter belajar dan mengajar.



Bimaristan Nur al-Din, sebuah rumah sakit dan sekolah kedokteran di Damaskus, didirikan pada abad ke-12. Saat ini bangunan tersebut menjadi Museum Kedokteran dan Ilmu Pengetahuan di Dunia Arab. Sumber foto, https://www.aramcoworld.com/articles/2017/the-islamic-roots-of-the-modern-hospital

Sedangkan kemajuan dalam bidang kesehatan dibuktikan dengan pembangunan beberapa rumah sakit dan peningkatan pelayanan kesehatan di beberapa kota. Misal, Shalahuddin membangun dua rumah sakit di Damaskus dan Kairo. Tidak hanya lembaga kesehatan untuk masyarakat, tetapi juga dibangun sekolah khusus kesehatan. Pada masanya lahirlah cendekiawan dan dokter yang juga mengabdi di rumah sakit tersebut seperti Musha bin Maimun dan Ibnu al-Baithar yang sangat masyhur itu. Beberapa dokter tidak hanya mengabdi dan bekerja di rumah sakit umum, tetapi juga ada sebagian yang mengabdi di istana dan bekerja di sana.

Selain itu, tak kurang dari delapan ruang besar yang menghadap seluruh penjuru dibangun di dalam bimaristan sebagai ruang rawat inap. Ruang rawat inap pria dan wanita dipisahkan. Ruang-ruang yang lebih kecil digunakan untuk memeriksa pasien dari ruangan atau yang datang ke bimaristan.

Aula pertemuan digunakan untuk kegiatan pertemuan dan penyuluhan, pendidikan, serta jika diperlukan, juga untuk menambah kapasitas ruang rawat. Pada dinding-dinding gedungnya— sebagaimana instruksi khalifah—dipasang kaligrafi ayat-ayat Al Quran dan hadis yang berkaitan tentang upaya pengobatan dan kesehatan.

Ada pula ruang yang berfungsi sebagai dapur umum, ruang penyimpanan obat—seperti depo farmasi di masa sekarang, serta ruang untuk sanitasi dan penampungan air untuk kebutuhan pasien—di era modern ini, semacam pusat sterilisasi alat dan bahan. Ruangan-ruangan ini mengitari satu taman besar yang disebutkan memiliki air mancur dan tetumbuhan yang diimpor dari berbagai negeri. Bimaristan al Nuri, sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Usaibiah, bahkan sudah memberlakukan adanya bangsal khusus pasien dengan gangguan kejiwaan. Mereka ditampung di ruang besar terpisah dengan pasien di ruang rawat inap lain.

Pada masa Ayyubiyah, pembiayaan pembangunan rumah sakit diperoleh dari kas negara. Rumah sakit juga memperoleh suntikan dana dari wakaf dan hibah para kaum Muslimin. Orang-orang kaya, khususnya khalifah dan emir, memberikan hak miliknya dikelola dan hasilnya digunakan untuk merawat dan memelihara rumah sakit, wakaf-wafak itu berupa toko, tempat penggilingan tepung, dan kedai kafilah.
Prasasti di dinding Bimaristan Arghun di Aleppo, Suriah, memperingati pendiriannya oleh Emir Arghun al-Kamili pada pertengahan abad ke-14. Perawatan bagi penderita penyakit kejiwaan di tempat ini meliputi pencahayaan yang melimpah, udara segar, air mengalir, dan musik.  Sumber foto, https://www.aramcoworld.com/articles/2017/the-islamic-roots-of-the-modern-hospital

Hasil dari hibah-hibah tersebut digunakan untuk pemeliharaan rumah sakit dan biaya operasionalnya, kadang-kadang juga digunakan untuk membantu keuangan pasien yang kehilangan pekerjaan. Pasien juga diperhatikan dengan sangat baik, nama mereka ditulis dalamdaftar nama khsusu untuk mengetahui perkembangan keadaannya hari demi hari. Obat dan makanan diberikan kepada mereka secara gratis, mereka terus-menerus diperhatikan sampai benar-benar kondisi kesehatannya kembali pulih. Ketika pasien meninggalkan rumah sakit, pasien tersebut akan diberikan pakaian dan sejumlah uang untuk nafkah darurat selama masih lemah.

Adapun biaya operasional untuk bulanan dokter, perawat, asisten dokter, pembuat balai, dan pembantu diperoleh dari hasil rumah sakit yang dihitung tiap bulan. Pelayanan kesehatan untuk pasien semuanya gratis.|