A homepage subtitle here And an awesome description here!

Sabtu, 12 September 2026

Hafalan Al-Qur'an Para Sahabat di Mata Guru Gembul





Ilustrasi Meneladani Para Sahabat Nabi:
Sumber: https://islam.nu.or.id/


... tapi selain itu kita tidak mengetahui ada sahabat yang hafal Al-Qur'an. Abu Bakar Umar itu tidak hafal Al-Quran ...
Sebenarnya ini isu lama yang sudah layu. Akan tetapi, saya segarkan lagi supaya banyak orang mengambil pelajaran akan perlunya kehati-hatian menilai sosok sahabat raḍiyallāhu ‘anhum. Para sahabat itu generasi terbaik umat ini. Mereka adalah “santri Qur'an” yang belajar Qur'an tatap muka langsung dengan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, misalnya, untuk kasus riwayat sahabat Umar bin Khattab raḍiyallāhu ‘anhu tentang Islam, Iman, dan Ihsan, para sahabat belajar langsung dari Jibril ‘alaihis-salām

Jadi, ceritanya begini. Adalah dia seorang konten kreator. Namanya Guru Gembul—Saya sebut saja Pak GeGe. Pembaca kenal orang ini, kan? Sebagai konten kreator, ia populer banget di jagat Medsos. Browsing saja di internet, pasti ketemu. Namanya bahkan nangkring di ensiklopedia daring Wikipedia. Coba cek https://id.wikipedia.org/wiki/Guru_Gembul, nah itu dia.

Pak GeGe ini pernah melontarkan statement di YouTube, bahwa kata dia, para sahabat itu tidak semua hafal Al-Qur’an. Sampai di sini, statement Pak GeGe boleh jadi tidak salah, sebab setelah Nabi wafat, sahabat terhitung hampir mencapai seratus ribuan orang jumlahnya lebih kurang. Mereka tinggal terpencar di berbagai negeri, tidak hanya di Makkah dan Madinah. Jadi, sangat mungkin ada sedikit di antara ribuan sahabat yang hanya hafal dua pertiga, setengah, atau bahkan lebih sedikit dari itu hafalan Al-Qur’annya.

Boleh jadi banyak yang sudah melihat video YouTube Pak GeGe itu, lalu terkaget-kaget. Terkaget-kaget, karena boleh jadi menganggap Pak GeGe sedang “nggedabrus” saja. Boleh jadi ada yang sebaliknya, mereka terkagum-kagum dan menilai Pak GeGe ini banyak tahu hal yang jarang banyak orang tahu perihal hafalan para sahabat. Ibarat kata, Pak GeGe ini semacam “Guru Besar” sirah sahabah dengan pengetahuan seluas perpustakaan Baitul Hikmah pada era keemasan Daulah Abbasiyah.

Akan tetapi, saat Pak GeGe menyebut bahwa di antara para sahabat yang tidak hafal Al-Qur’an itu di antaranya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, duarrr! Orang yang terkaget-kaget makin menilai Pak GeGe memang sedang“nggedabrus”. Jangan-jangan, mereka menganggap Pak GeGe ini orang yang sedang mabuk popularitas sehingga dia lupa menempatkan diri di mana seharusnya dia berada dibanding Abu Bakar dan para sahabat yang disebutnya tidak hafal Al-Qur'an itu.

Sebaliknya, boleh jadi, mereka yang terkagum-kagum makin menganggap Pak GeGe orang yang berani membuka tabir. Ia dianggap berhasil mengatasi rasa ewuh pakewuh dari bicara jujur tentang sosok sahabat yang nyaris dipercaya banyak orang sebagai generasi yang paling mulia setelah Nabi.

Sebagai sisipan, dahulu, saya termasuk yang menaruh kagum pada Pak Gege ini. Namun, setelah menyaksikan video debat Pak GeGe dengan Ustaz. Nuruddin, rasa kagum itu bergeser, sudah tidak lagi presisi antara persepsi saya semula dengan fakta penampilannya saat debat berlangsung. Makin tidak presisi saat Pak GeGe berani menilai Sayidina Abu Bakar tidak hafal Al-Qur’an meskipun diawali dengan kalimat "... tapi selain itu kita tidak mengetahui ada sahabat yang hafal Al-Qur'an. Abu Bakar Umar itu tidak hafal Al-Quran ..."

Maka, saya jadi penasaran. Karena setiap jam dari waktu saya seharian bergelut dengan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)—meskipun hanya SKI selevel anak siswa Madrasah Tsanawiyah—saya ingin menguji kesimpulan Pak GeGe itu, benarkah Sahabat Abu Bakar itu tidak hafal Al-Qur’an. Sebagai guru sejarah, pastilah Pak GeGe memahami disiplin pada data dan fakta menyangkut kredibilitas seorang tokoh yang menyejarah.|

Pak Guru Gembul

Dari hasil penelusuran, hasilnya, ish ish ish, tak patut. Menyebut sahabat Abu Bakar tidak hafal Al-Qur’an sungguh tak patut. Saya menemukan fakta berikut:

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sangat menghormati, memuliakan, memuji Abu Bakar. Bahkan sempat Nabi mengangkat Abu Bakar sebagai imam dalam salat. Pada situasi krusial di era kenabian, Abu Bakar hadir di medan Perang Badar, Uhud, Khandaq, Baiat Ridwan di Hudaibiyah, Khaibar, Fathu Makkah, Hunain, Thaif, Tabuk, dan juga Haji Wada’.

Pada Perang Tabuk, bahkan Rasulullah menyerahkan panji besarnya yang berwarna hitam kepada Abu Bakar. Abu Bakar juga termasuk orang-orang yang tetap teguh bersama Rasulullah pada Perang Uhud dan Hunain ketika banyak orang mundur. Ia termasuk salah seorang sahabat senior yang menghafal seluruh Al-Qur’an.[1]

Maka tidak heran, bila ulama sekelas Imam An-Nawawī saja berkata dalam Tahdhīb-nya: “Aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu ‘anhu adalah salah seorang sahabat yang menghafal seluruh Al-Qur’an. Pernyataan ini juga disebutkan oleh sejumlah ulama, di antaranya Ibnu Kathīr dalam Tafsīr-nya.[2]

ʿAbd as-Sattār asy-Syaikh bahkan menyebut beberapa nama sahabat penghafal Al-Qur’an. Kata as-Sattār, di antara para sahabat yang terkenal karena hafal Al-Qur’an adalah empat khalifah, Thalhah, Sa‘d, Hudzaifah, Salim maula Abu Hudzaifah, Ibnu Mas‘ud, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, ‘Amr bin al-‘Ash, Abdullah bin az-Zubair, Mu‘awiyah, ‘Aisyah, dan Hafshah. Demikian pula dari kalangan Anshar, pada masa hidup Nabi, terdapat Ubay bin Ka‘ab, Mu‘adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu ad-Darda’, Anas bin Malik, serta banyak sahabat lainnya. [3]

Baiklah, saya tutup saja nilai kredibilitas qur’ani sahabat Abu Bakar dengan mengutip penjelasan asy-Syaikh Muḥammad ‘Ārif bin Aḥmad yang sedikit panjang. Kata beliau, tidak diragukan lagi bahwa Abu Bakar adalah seorang jami'ul Qur'an (penghimpun sekaligus penghafal Al-Qur'an). Beliau telah menghafal Al-Qur'an di luar kepala sejak masa hidup Rasulullah. Selain sebagai penghafal, beliau juga merupakan salah satu penulis wahyu yang menuliskan Al-Qur'an atas perintah Nabi. Mengingat kedudukannya tersebut, kemungkinan besar beliau juga memiliki dan menulis mushaf pribadi untuk dirinya sendiri.

Kedudukan beliau sebagai seorang hafiz diperkuat oleh fakta bahwa beliau adalah imam dari salah satu dari tujuh qira'at yang diriwayatkan dari tujuh sahabat Nabi—yang dalam salah satu penafsiran dianggap sebagai bentuk dari sab'atu ahruf (tujuh huruf) diturunkannya Al-Qur'an. Tujuh qira'at tersebut diriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abdullah bin Mas'ud, Abdullah bin Abbas, dan Ubay bin Ka'ab. Imam Al-Jazari menegaskan bahwa terdapat banyak riwayat bacaan (qira'at) Al-Qur'an yang bersumber dari Abu Bakar di berbagai tempat dalam Al-Qur'an. Secara akal maupun jalur riwayat (nukil), sungguh tidak masuk akal jika seorang imam qira'at yang memiliki riwayat bacaan khusus justru tidak menghafal Al-Qur'an.

Kealiman Abu Bakar juga diakui secara luas. Beliau memimpin jajaran sepuluh sahabat yang paling termasyhur dalam ilmu tafsir, bersama Umar, Utsman, Ali, Ibn Mas'ud, Ibn Abbas, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy'ari, dan Abdullah bin az-Zubair. Di samping itu, Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya dan An-Nawawi dalam Tahdhīb-nya secara tegas mencatat Abu Bakar sebagai salah satu sahabat yang menghafal seluruh Al-Qur'an.

Pendapat ini diperkuat oleh As-Suyuthi yang menyatakan bahwa indikasi kuat dari berbagai hadis menunjukkan Abu Bakar telah menghafal Al-Qur'an sejak masa Rasulullah. Dalam Kitab Shahih disebutkan bahwa tatkala di Makkah, beliau membangun sebuah masjid di halaman rumahnya dan rutin membaca Al-Qur'an (ayat-ayat yang telah diturunkan saat itu) di sana. Ibnu Hajar mengomentari hal ini sebagai sesuatu yang tidak perlu diragukan lagi, mengingat besarnya kesungguhan Abu Bakar dalam menyerap Al-Qur'an langsung dari Nabi , kecukupan hartanya di Makkah, serta kebersamaan mereka yang sangat erat—sebagaimana dituturkan 'Aisyah radiyallahu 'anha bahwa Nabi selalu mendatangi rumah mereka setiap pagi dan petang.

Bukti utama lainnya berasal dari hadis sahih yang memerintahkan agar yang menjadi imam shalat adalah orang yang paling pandai atau paling banyak hafalan Al-Qur'annya (aqra'uhum). Ketika Rasulullah sakit, beliau menunjuk Abu Bakar untuk menjadi imam shalat bagi kaum Muhajirin dan Anshar, yang di antaranya terdapat para qurra' (ahli Al-Qur'an). Penunjukan ini menjadi petunjuk jelas bahwa Abu Bakar adalah orang yang terbaik dan terbanyak hafalan Al-Qur'annya di antara para sahabat, sebagaimana yang ditegaskan oleh As-Suyuthi dan Ibnu Katsir.[4]|

Pernyataan yang meragukan hafalan Al-Qur'an Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq raḍiyallāhu ‘anhu tidak hanya keliru secara historiografis, tetapi juga mengabaikan konsensus para ulama terkemuka. Berbagai pijakan akademis—mulai dari kedudukan beliau sebagai perawi qira'at, kesaksian ulama klasik seperti Imam an-Nawawī dan Ibnu Kathīr, hingga penunjukan langsung oleh Rasulullah sebagai imam shalat—secara mutlak membuktikan bahwa beliau adalah seorang hafiz dan jāmi‘ul Qur'ān. Fakta sejarah yang kokoh ini menegaskan bahwa tuduhan tersebut lahir dari kecerobohan dalam memahami literatur dan disiplin sejarah Islam.

Fenomena ini menjadi pengingat penting bagi publik dalam mengonsumsi konten edukasi di era digital. Kepopuleran seseorang di media sosial tidak serta-merta menjadikannya otoritatif dalam ilmu agama maupun sejarah. Ketika seorang konten kreator berbicara tanpa didasari kecermatan metodologis dan data yang sah, narasi yang dihasilkan bukan lagi pencerahan, melainkan penyesatan informasi. Oleh karena itu, skeptisisme ilmiah dan kebiasaan tabayyun (konfirmasi data) sangat krusial agar masyarakat tidak mudah terpesona oleh kerangka retorika yang rapuh.

Sebagai penutup, memuliakan para sahabat Nabi raḍiyallāhu ‘anhum bukan berarti bersikap taklid atau alergi terhadap diskusi sejarah, melainkan bentuk penghormatan atas integritas generasi terbaik umat ini. Menilai sosok sebesar Abu Bakar ash-Shiddiq menuntut ketelitian tinggi dan rasa hormat terhadap sanad keilmuan. Semoga kita semua, khususnya para pendidik dan penikmat konten digital, senantiasa diberi kehati-hatian dalam menyampaikan serta menerima informasi, sehingga kemuliaan para sahabat tetap terjaga dari klaim-klaim tanpa dasar.

Depok, 12 September 2026.
Menjelang Maghrib.

_______



Rujukan:


[1] Muḥammad Riḍā, Abū Bakr aṣ-Ṣiddīq Awwalu al-Khulafā’i ar-Rāsyidīn (Kairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.), hlm. 14-15.

[2] Jalāl ad-Dīn ‘Abd ar-Raḥmān ibn Abī Bakr as-Suyūṭī, Tārīkh al-Khulafā’ (Jeddah: Dār al-Minhāj, 2013 M), hlm. 120, dalam versi Al-Maktabah asy-Syāmilah pada:https://shamela.ws/book/11995/98.

[3] ʿAbd as-Sattār asy-Syaikh, Abū Bakr aṣ-Ṣiddīq: Khalīfatu Rasūlillāh ﷺ wa Thānī Itsnaini Idz Humā fī al-Ghār (Damaskus: Dār al-Qalam, 2011), hlm. 567. 

[4] asy-Syaikh Muḥammad ‘Ārif bin Aḥmad, Hadyu Ahli al-Īmān ilā Jam‘i al-Khulafā’ ar-Rāsyidīn al-Qur’ān (Beirūt: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), hlm. 73-74.



Sabtu, 05 September 2026

Berbagi Logistik

Sisa-sisa bahan makanan dan minuman di kamar kami menjelang keberangkatan ke Madinah, pada 30 Zulhijjah 1447 H/16 Juni 2026 M. Foto dokumen pribadi Abdul Mutaqin

Terhindarlah kami semua dari buruk sangka, curiga mencurigai, apalagi menyimpan rasa bahwa ada “pencuri” di dalam kamar kami selama berhaji.
Ada pengalaman berharga yang lupa saya bagikan kepada peserta Sarasehan Pengalaman Berhaji tadi pagi di Kantor KBIHU Muhammadiyah Kota Depok. Sebenarnya hanya pengalaman biasa. Akan tetapi, pengalaman ini sangat bermakna—setidaknya bagi saya.

Pengalaman yang terlupakan itu akan saya sharing di sini. Soal ia sama bermaknanya atau tidak, biar berpulang kepada peserta Sarasehan dan sempat membaca tulisan ini.

Dalam sudut pandang saya, salah satu kenyamanan saat berhaji adalah ketika teman satu regu dan satu kamar berhasil membangun relasi kesepahaman dalam hal “berbagi logistik”. Kesepahaman inilah yang saya dapatkan saat menunaikan haji pada Musim Haji 1447 H/2026 H kemarin.

Saya—dan empat orang jemaah laki-laki sekamar dan dua perempuan di kamar berbeda—tergabung dalam Regu 28, Rombongan 7, dan Kloter 21. Kami menginap di MKarem Dhyafat Al-Bayt Hotel 1. Lokasinya di Misfalah, Sektor 9, di Kawasan Ibrahim Al Khalil, Ajyad, Makkah, Arab Saudi.

Kami menginap di kamar No. 1218 di lantai 12 hotel ini. Di kamar inilah saksi bisu “berbagi logistik” di antara kami berlangsung—saya sebut sebagai: the event was smooth.

Salah seorang di antara kami—saya lupa kalimat persisnya—berkata:
Bapak-bapak, semua bekal milik saya yang saya taruh di sini di kamar ini, halal bagi bapak semua. Silakan nikmati tanpa harus minta izin saya lagi.”
Masya Allah!

Lalu, secara spontan, kami kemudian melakukan hal yang sama. Kami membongkar logistik yang kami bawa dari koper masing-masing, lalu kami susun rapi pada dua baki di sudut lemari pakaian. Ada juga yang disusun pada gantungan baju. Jadilah lemari kami lebih mirip gerobak warung kecil daripada tempat menyimpan pakaian.

Lalu, di mana istimewanya?

Kami datang dari latar berbeda-beda dalam segala keadaan. Persamaan kami hanya; sama-sama orang Indonesia dan sama-sama niat untuk berhaji. Bahkan, karena satu dan lain hal, kami satu regu pun baru bertemu dan saling berkenalan saat kali pertama berkumpul di Embarkasi, Bekasi, sehari sebelum keberangkatan ke Makkah.

Akan tetapi, dengan kesadaran spontan ingin mengikat kebersamaan selama berhaji, dalam hal makanan kami saling menghalalkan. Seakan-akan kami ini sudah saling mengenal satu sama lain dengan sangat baik sehingga tidak harus menjaga jarak dalam hal makanan dan minuman bawaan kami. Sikap ini yang menurut akal dan nurani saya menjadi kunci untuk kenyamanan dari rasa lapar dan haus sejak hari pertama kami di Makkah sampai hari terakhir di Madinah sesama teman sekamar.

Efeknya luar biasa. Masing-masing kami merasa tenang untuk menikmati apa saja dari bekal makanan atau bahan minuman meskipun itu bukan bawaan kami. Kami terhindar dari “main kucing-kucingan” karena ingin menikmati makanan atau minuman itu menunggu pemiliknya saat tidak bersama kami di kamar. Perasaan tenang ini karena makanan dan bahan minuman itu sudah diberi label: Ḥalālan ṭayyiban mubārakan fīh untuk kapan saja dinikmati, baik sedang bersama-sama atau sendirian di kamar.

Masing-masing kami pun tidak menyelisik bila mendapati makanan atau minuman bawaan kami itu berkurang dari hari ke hari. Terhindarlah kami semua dari buruk sangka, curiga mencurigai, apalagi menyimpan rasa bahwa ada “pencuri” di dalam kamar kami selama berhaji sejak di Makkah maupun di Madinah.

Foto kenangan saat menikmati kebersamaan di sela-sela aktivitas ibadah di Makkah. Foto dokumen pribadi Abdul Mutaqin, diambil pada 2 Zulhijjah 1447 H/ 19 Mei 2026 M di kamar 1218 MKarem Dhyafat Al-Bayt Hotel 1.

Sungguh, ini pengalaman berhaji yang sangat membahagiakan. Untuk bapak-bapak haji teman saya satu kamar di Musim Haji 1447H/2026 M, semoga sehat-sehat dan melimpah berkah selalu. Untuk calon Ḍuyūfur-Raḥmān Musim Haji 1448 H/2027 M esok, semoga menambah literasi bagaimana berhaji dengan gembira. Aamiin.

Have a nice sleep.

Depok, 23 Rabi’ul Awwal 1448 H

Selasa, 25 Agustus 2026

Iman, Kebebasan, dan Hari Bermuhammadiyah

Kebetulan bertemu usai mengikuti pengajian Hari Bermuhammadiyah ke-10 Muhammadiyah Kota Depok dengan narasumber, Dr. H. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.IP., M.PA. Ada kawan lama juga, Muhammad Abdul Halim Sani (paling kiri). 

Matā ista‘badtum al-nāsa, wa-qad waladathum ummahātuhum aḥrāran?
Hari ini, Selasa 12 Rabī‘ul Awwal 1447 H, bertepatan dengan 25 Agustus 2026 M warga Persyarikatan Muhammadiyah Kota Depok mengunduh pencerahan. Seberapa banyak perolehan pencerahan mereka, bergantung kesiapan daya intelektual masing-masing.

Adalah Dr. H. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.IP., M.PA., menyampaikan kuliah umum yang cukup menarik, santai, dan bernas pada acara Hari Bermuhammadiyah Ke-10 Kota Depok. Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP. Muhammadiyah ini menyinggung banyak poin penting dari durasi hampir satu jam lebih beliau berbicara.

Boleh jadi, di antara para Pengurus Muhammadiyah di Cabang dan Ranting, sayalah yang paling sedikit hasil unduhannya. Bila saja hadir di Masjid At-Tanwir, Bojongsari tempat acara ini dihelat ibarat orang yang datang untuk mengunduh buah mangga yang sudah ranum di kebun, saya hanya membawa pulang satu tangkai saja ke rumah. Bukan karena di kebun mangganya sedikit, melainkan kecakapan saya memetik yang tidak cukup.

Gus Bach—panggilan akrab Pak Bachtiar—ada menyinggung bahwa dakwah Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak lain untuk memerdekakan umat dari belenggu aqidah jahiliyah, sosial, politik, dan ekonomi.

Memang, begitulah juga yang dihadapi Kiai Dahlan pada awal mula mendirikan Muhammadiyah. Kata Kiai Dahlan, ”Karena itu, aku terus memperbanyak amal dan berjuang bersama anak-anakku sekalian untuk menegakkan akhlak dan moral yang sudah bengkok. Kusadari bahwa menegakkan akhlak dan moral serta berbagai persoalan Islam yang sudah bengkok memang merupakan tugas berat dan sulit.” [1]

Kebengkokan yang ingin diobati Kiai Dahlan sebenarnya sudah menyebar bagai sel kanker pada semua sendi kehidupan anak bangsa. Pendek kata, Kiai Dahlan berjuang dengan spirit tajdidnya agar umat bisa keluar dari belenggu akidah yang bengkok—karena dominasi syirik, khurafat, takhayul, dan bid’ah—pendidikan yang buruk dan dikotomis, ketimpangan sosial yang menelantarkan, dan kesehatan yang memarjinalkan orang-orang miskin.

Di sini menurut Gus Bach—seperti yang saya pahami— Muhammadiyah hadir dengan semangat dakwah untuk memerdekakan umat dari akidah yang sudah bengkok sebengkok-bengkoknya itu dengan titik tekan pada purifikasi.

Saya amat tertarik dengan poin Gus Bach yang ini. Bukan tidak tertarik pada semua poin ceramah sepanjang beliau berbicara, melainkan soal kecakapan memetik tadi. Jadi, poin ini ibarat setangkai dari buah mangga yang saya bawa pulang, mangga yang paling manis di lidah saya. Andaikata ada waktu yang cukup, saya berharap akan ada pengayaan dari poin ini dari Gus Bach di kemudian hari, agar manisnya terasa lebih marem.|

Virginia Declaration of Rights
—banyak orang bilang sangat revolusioner—memuat rumusannya yang sangat terkenal: “That all men are by nature equally free and independent and have certain inherent rights …” baru dirumuskan pada 12 Juni 1776. Akan tetapi, kalimat ini menjadi inspirasi bagi Thomas Jefferson saat ia menulis Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, memengaruhi pembentukan United States Bill of Rights, dan menjadi acuan dokumen hak asasi manusia di negara lain, termasuk Perancis.

Namun, tahukah kita, bahwa Sayyidina ‘Umar bin al-Khattab, Khalifah Rasyidah ke-2—memerintah tahun 634–644 M/13–23 H—sudah berkata begini: “Matā ista‘badtum al-nāsa, wa-qad waladathum ummahātuhum aḥrāran?” [2].

Bahkan sebelumnya, Rasulullah sudah pula menulis Ṣaḥīfah al-Madīnah atau Piagam Madinah dalam konteks politik. Ṣaḥīfah al-Madīnah memberikan ruang bagi kelompok-kelompok berbeda untuk hidup dalam satu komunitas politik, dengan pengakuan terhadap kebebasan masing-masing. Memang, semangat pembebasan dalam dakwah Rasulullah tidak hanya tampak dalam pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Allah, tetapi juga dalam kehidupan sosial-politik Madinah.|

Sebuah buku yang mengulas tentang Iman, kebebasan, dan tirani yang ditulis Ḥākim al-Muṭairī berjudul Taḥrīr al-Insān wa Tajrīd al-Ṭughyān[3] menarik dibincangkan sedikit di sini. al-Muṭairī menegaskan bahwa kebebasan adalah karunia Ilahi. Ia merupakan bagian dari iman dan kebutuhan manusia.

Nilai kebebasan—dalam Islam—terletak pada ruhnya bahwa ia merupakan tujuan dari kalimat tauhid, “Lā ilāha illallāh.” Dengan beriman hanya kepada Allah dan memurnikan tauhid hanya untuk-Nya, terwujudlah kebebasan yang tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi dan lebih bermanfaat daripadanya. Karena itu, menurut al-Muṭairī “Al-Ḥurriyyah Rūḥ al-Tawḥīd”, bahwa kebebasan adalah ruh tauhid.

Islam juga memandang, bahwa kebebasan merupakan hak asasi yang hadir bersama manusia sejak ia dilahirkan. Bahkan, tidak ada makna kemanusiaan tanpa kebebasan, dan tidak ada nilai bagi manusia tanpa kebebasan.

Maka, menjadi sangat penting untuk memahami lagi satu poin dari ceramah Gus Bach, yaitu kalimat “Lā ilāha illallāh.” Saya menggarisbawahi, ada tiga poin penting di sini, pertama, tauhid sebagai ruh kebebasan; kedua, dakwah purifikasi Muhammadiyah yang memerdekakan umat dari akidah yang bengkok, dan; ketiga, perlunya warga Persyarikatan terus mewujudkan kemerdekaan lahiriah dan batiniah.

Konon, di negeri Konoha, makna tauhid telah direduksi. Tauhid kepada Allah dalam hal kekuasaan dan kedaulatan digantikan para penguasa tiran dan orang-orang yang sewenang-wenang. Mereka diperlakukan sebagai “rabb” bagi orang-orang yang menjadi hamba, sebagai raja bagi rakyat mereka.

Apatah lagi yang lebih mengerikan, para hamba itu tidak sedikit bergelar akademisi, intelektual, pemuka agama, politisi, dan para pejabat serta buzzer-buzzer penjilat. Na'udzubillah wa amit-amit. Semoga fenomena reduksi aqidah ini tidak terjadi di negeri ini yang katanya sudah merdeka sejak 81 tahun yang lalu.

Bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah Kota Depok, selamat menikmati Hari Bermuhammadiyah dan anugerah kemerdekaan dari belenggu kolonialisme.|

Depok, 25 Agustus 2026 M.


-----

[1]. Anshoriy Ch, M. Nasruddin. 2010. Matahari Pembaruan: Rekam Jejak K.H. Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Bangkit Publisher.

[2]. “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

[3]. Al-Mutairi, Hakim. 2009. Taḥrīr al-Insān wa Tajrīd al-Ṭughyān: Dirāsah fī Uṣūl al-Khiṭāb as-Siyāsī al-Qur’ānī wan-Nabawī war-Rāshidī. Beirut: al-Mu’assasah al-‘Arabiyyah li ad-Dirāsāt wan-Nasyr, dalam versi digital. Salah satu tema sentral buku ini adalah hubungan antara tauhid, kebebasan manusia, dan penolakan terhadap tirani (ṭughyān).

Sabtu, 08 Agustus 2026

Komik Dakwah dan Kiai Adung

 

Wajahmu. Ilustrasi komik Kyai Kocak karya Vbi_Djenggotten.


Sebuah buku—termasuk komik— bisa dikatakan bagus bila ia punya tiga daya: daya gugah, daya ubah, dan daya pikat. 
Dakwah secara mendasar merupakan seruan, ajakan, dan upaya penyampaian pesan kebaikan serta nilai-nilai keagamaan. Di era komunikasi visual saat ini, metode penyampaian dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar tradisional, ceramah tatap muka, atau teks literatur yang tebal. Pendekatan visual menjadi kebutuhan penting agar ajaran moral dan spiritual dapat menjangkau khalayak yang lebih luas, terutama generasi muda yang terbiasa dengan konsumsi media visual cepat.

Dalam konteks ini, komik muncul sebagai salah satu media dakwah yang sangat efektif. Melalui perpaduan antara seni visual dan kekuatan narasi, komik mampu menyederhanakan gagasan-gagasan keagamaan yang kompleks menjadi sajian yang lebih renyah, intuitif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari tanpa mengurangi substansi ajaran yang diusungnya.

Keunggulan utama komik terletak pada sinergi antara teks dan ilustrasi. Dalam komunikasi dakwah, ilustrasi visual bertindak sebagai jembatan pemahaman yang mampu memperjelas konteks dan emosi dari pesan yang ingin disampaikan.

Dari perbincangan ringan beberapa komikus yang concern dengan komik dakwah yang saya dengar, saya punya kesimpulan bahwa komik cukup efektif sebagai media penyederhana konsep. Hukum fikih yang berat, kisah sejarah kenabian (sirah) yang ‘njlimet’, hingga konsep akhlak yang abstrak dapat divisualisasikan melalui adegan dan dialog tokoh. Pendekatan ini memudahkan pembaca dari berbagai latar belakang usia untuk mencerna ajaran Islam tanpa merasa dihakimi.

Pendekatan humor dan otentisitas pesan melalui komik juga terasa natural. Humor yang cerdas dan kisah keseharian dalam komik dakwah—seperti interaksi antarwarga, persoalan kehidupan sosial, perjalanan spiritual pribadi, hingga kritik atas pemikiran keislaman yang ‘aneh-aneh’ atau menyimpang—mampu menghadirkan nuansa dakwah yang hangat, ramah, dan manusiawi (humanis).

Hal yang sangat penting dari komik—termasuk komik dakwah—adalah soal daya tarik emosional. Ekspresi wajah dan gestur karakter dalam panel komik memberi dimensi emosional yang sering kali sulit dicapai hanya dengan teks polos. sehingga nilai kepedulian, keikhlasan, dan empati lebih mudah tersampaikan.

Saya rasa, komik dan humor itu punya kesamaan karakter dan daya pikat, yakni sama-sama menghibur dan menggembirakan. Komik dan humor bisa dipertemukan untuk mengangkat karakter “Basysyirū wa lā tunaffirū”berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari/menjauh—dalam konteks dakwah.

Boleh jadi—ini baru asumsi saya—pembaca seperti sedang diajak ‘ngaji’ dengan suasana gembira melalui komik. Dalam batas-batas tertentu, ‘ngaji’ memang harus menggembirakan, meskipun tema pengajian mengulas dogma yang dianggap menakutkan seperti soal neraka. Di tangan komikus yang paham agama, skil menggambar yang keren, dan naskah humor yang apik, ‘ngaji’ tentang neraka pun jadi menyenangkan—menumbuhkan kesadaran akan siksa neraka dan gembira mengamalkan amalan yang membebaskan dari api neraka.

Meminjam book values-nya Bambang Trim, sebuah buku—termasuk komik— bisa dikatakan bagus bila ia punya tiga daya: daya gugah, daya ubah, dan daya pikat. Jadi, komik harus menggugah, mengubah, dan memikat. Karena ia komik dakwah, maka daya gugah, ubah, dan pikat-nya mengarah pada nilai-nilai Islam sebagai agama yang membawa misi keselamatan, kemaslahatan, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Di ranah kebudayaan populer, komik dakwah bertindak sebagai sarana counter-narrative terhadap gempuran media hiburan yang semata-mata berorientasi pada konsumerisme atau nilai-nilai yang bertolak belakang dengan etika keagamaan. Komik dakwah membuktikan bahwa konten bernilai keagamaan juga bisa dikemas secara estetis, kreatif, dan menghibur.

Asalkan konsisten pada nilai-nilai dakwah Islam, komik efektif sebagai sarana penanaman nilai sejak dini. Komik memberikan ruang yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak serta remaja untuk belajar tentang akhlak, kejujuran, dan toleransi. Karakter-karakter ikonik dalam komik seringkali menjadi figur teladan (role model) visual bagi mereka.

Komik juga bisa menjadi jembatan generasi. Komik dakwah mampu meruntuhkan canggungnya batas komunikasi antar-generasi. Pesan moral yang disampaikan lewat media populer ini terasa lebih egaliter, santai, dan tidak menggurui.|


Pada 2013, melalui buku Kiai Kocak Vs Liberal, saya bereksperimen menulis buku counter-liberalisme dengan pendekatan humor. Kiai Adung—karakter rekaan sang Kiai Kocak—saya gambarkan sebagai kiai kolot, cerdas, tapi juga jail. Dengan kekolotan, kecerdasan, dan kejailannya, Kiai Adung menimpali logika gerombolan liberal dan membuat mereka kecele.

Meskipun Kiai Kocak Vs Liberal baru hampir termasuk buku best seller, akan tetapi, karakter Kiai Adung sempat merebut hati pembaca buku ini. Hanya saja, sejak 2017, karena kegiatan literasi menulis di perpustakaan sekolah tempat saya mengajar cukup menyita waktu, cerita fiksi Kiai Kocak Vs Liberal tidak saya teruskan.

Kiai Adung nyaris saya lupakan. Namun, karakter fiksi Kiai kolot yang cerdas dan jail ini masih melekat di dalam benak. Maka, saat Mbak Aminah Mustari, Chief Editor Salsabila—imprint dari penerbit Pustaka Al-Kautsar—mengajak berbincang menjajaki kemungkinan “menghidupkan” kembali Kiai Adung dalam versi komik, uh, rasa hati senang sekali.

Boleh jadi, Salsabila melihat peluang komik sebagai media dakwah kontemporer masih memiliki potensi yang sangat besar untuk terus berkembang. Saya juga percaya, Salsabila paham betul bahwa efektivitas komik dakwah tetap bergantung pada keberimbangan antara kreativitas artistik dan keakuratan pemahaman agama. Apalagi, penerbit ini di bawah payung Pustaka Al-Kautsar, penerbit buku-buku Islam yang cukup selektif dalam mengawal paham agama yang sahih.

Rabu kemarin, 5 Agustus 2026, pesan WA masuk mengabari.

"Assalamu alaikum Mas Abdul. Sudah terima draft naskah siap cetak Kiai Kocak kan, ya?"

Dan, saya berbinar.

Jadi, begitulah. Kiai Adung akhirnya “hidup” lagi. “Have a good wait, Abdul."


Malam Minggu, 8 Agustus 2026.

Kamis, 09 Juli 2026

Host Uji Coba

Dari kanan, Prof. Dr. Imam Subchi, M.A., Alwanih, SH., MH., CTA., CPM., CM., CPArb., Cli., dan saya. 

Saya udah bilang dari kemaren. Ini host-nya Pak Abdul. Siapin mic yang bagus!"

Dua kali panggilan tak terjawab. Jam segitu, memang saya tidak sedang memegang gawai. Jadi, pasti luput siapa pun yang memanggil. Maafkan, bukan saya tidak aware.

"Waduh, dari pejabat," keluh saya setelah membaca siapa yang menghubungi.

Ditelpon pejabat Humas itu ngeri-ngeri sedap. Hati dak-dik-duk. Takutnya, saya punya salah yang berdampak pada citra madrasah di mata publik jadi buruk. Wah, punishment, nih. Hihihi, su'uzhan di menit pertama.

Instink birokrasi pegawai memang begitu. Dia pasti terusik bila ditelpon kolega yang memegang jabatan pada lembaga tempat bekerja. Prasangka buruk pasti bermain sebelum memikirkan banyak kemungkinan yang lain-lain yang netral. Karena itu sifat bawaan, "su'uzhan thinking" menjadi absah.

Akan tetapi, saya punya argumen. Jadi, menduga bakal diberi sanksi oleh atasan, masih lebih elegan dalam konteks ini daripada "husnuzzhan thinking" menyangka akan diberi gula-gula. Hahahaha. Bukan begitu Pak Maher Zen KW3?

Maka, dengan alasan etika komunikasi, segera saya menelepon balik. Ini standar yang umum dilakukan siapa saja. Bila perlu, jangan sampai keduluan dihubungi lagi untuk kali ketiga. Bila pun harus menunggu panggilan ketiga, pastikan panggilan dijawab. Begitu etikanya kata Pak Aje,  kawan saya yang pustakawan yang pecak gurame olahan istrinya oke banget. Hihihihi.

Begitulah setelah tersambung, rupanya diberi tugas menjadi host untuk program podcast MP UIN Jakarta.

Bujug buneng! Seumur-umur, terhitung langka diminta jadi host. Kalo nulis, sering. Salah alamat ini.

Tapi, diundang oleh host, pernah. Dulu, duluuu banget, pernah diundang media broadcasting untuk siaran televisi lokal di Depok. Pernah juga diundang bedah buku Kiai Kocak on air sebuah stasiun radio swasta di daerah Jakarta Selatan. Jadi, 'gak grogi-grogi amatlah ngomong di depan kamera dan cuap-cuap di bibir mikrofon.

Tapi, ini jadi host. Ini beda mental. Diterima, gimana. 'Gak terima juga gimana. Masalahnya juga, narasumbernya bukan orang biasa. Materi podcast-nya pun materi kelas berat, sensitif pula. Apatah lagi, karena baru pulang dari Arab, mata saya lagi sensitif merem. Bawaannya ngantuuuk aja. Takutnya lagi jadi host, serangan kantuk datang dan saya tertidur. Kan, 'gak lucu.

Akhirnya, setelah memperhatikan, menimbang, memutuskan, menetapkan memerima jadi host. Bismillah, hitung-hitung nambahin portofolio buat lampiran ngelamar kerja bila sudah pensiun dari MP kelak. Qiqiqiqiqi.

Jadi, topik podcast tadi siang itu "Amanat Integrasi KMA 1543”. Bagi masyarakat umum, topik ini mungkin dianggap biasa, bahkan kurang penting. Wajar sih, karena ada keterputusan konteks dengan dinamika Madrasah Pembangunan UIN Jakarta.

Namun, tidak bagi civitas akademika Madrasah Pembangunan, wali murid, dan stakeholder yang selama ini berjalan bersama memajukan madrasah ini. Ada ruang diskusi, dialog, pembentukan yang cenderung perang opini di media lokal, bahkan seteru yang belum sepenuhnya sepi sejak diberlakukan KMA 1543 tentang integrasi Madrasah Pembangunan dengan UIN Jakarta. Apa topik ini bukan topik berat dan sensinif, eh, sensitif?

Untungnya ada bahan belajar. Saya putar dua episode podcast sebelumnya. Topiknya serupa, tapi dengan kedalaman poin of view yang berbeda. Selain sosok pembicara dan isi perbincangan, angel yang saya cermati betul-betul adalah host-nya. Ooh, begitu toh jadi host.

Gimana seorang host bisa begitu santai dan bisa membangun komunikasi perbincangan yang mengalir. Itu kuncinya. Karena alasan tertentu, tinggal punya waktu sehari setelah ditelpon, saya belum sempat pinjem kuncinya, tahu-tahu sudah hari Kamis, hari eksekusi.|

Jantung rasa mau copot. Narasumber sudah duduk manis di kursi masing-masing. Gugup saya sudah mereda. Kamera sudah siap. Lha, dua mic kagak ada kabelnya.

Saya melipir, menjauh dari narasumber. Disusul Bang Rudi dan seorang kru. Kru ini tampak kecewa berat.

"Saya udah bilang dari kemaren. Ini host-nya Pak Abdul. Siapin mic yang bagus!"

Berasa melayang. Mungkin maksudnya, dengan mic yang bagus, pembawaan saya jadi bagus. Maklum, host uji coba. Hihihihi.

Waktu terus berjalan. Lima menit, sepuluh menit, dan lima belas menit. Narasumber masih duduk manis. Saya pengen nangis, cuma 'gak jadi, malu.

"Gimana, Rud?" Tanya saya.

Rudi agak gelisah. Sempet kepikiran dua mic diganti rekaman HP saja. Kru gak setuju karena akan banyak problem saat sinkronisasi editing gambar dan suara. Bagian ini saya 'gak ngerti, blas. Mikirin gimana jadi host saja sudah klenger.

Ah, pokoknya seru, dah. Tak cukup ruang buat diceritakan di sini.

Jalan keluar datang di saat yang tepat. Tipis harapan podcast bisa berlangsung, bersemi lagi. Mic pinjaman dari media UIN jadi penyelamat. Wajah Rudi dan kru semringah. Podcast berjalan wajar. Narasumber fasih sekali menjawab pertanyaan sesuai topik. Tapi, host masih deg-degan nunggu hasil editing.

Hooray, it's time to enjoy some sleep!

Depok, 9 Juli 2026 M, di penghujung libur akhir semester.



Sabtu, 27 Juni 2026

Haji di Zaman Kamera: Antara Sertifikat Keikhlasan dan Pencitraan






Karikatur swafoto di depan Ka'bah. Foto credit: https://www.tiktok.com/discover/gambar-kartun-pasangan-di-depan-kakbah

Jadi, ini bukan soal lucu atau tidak lucu dan bukan perbandingan etik haji disepadankan dengan kursus hanya karena selembar dokumen sertifikat.

Musim Haji tahun 1447 H telah berakhir. Jemaah haji hampir sebagian besar dipastikan telah kembali ke tanah air masing-masing. Boleh jadi, rasa lega, bahagia, dan haru bercampur dengan rasa rindu agar bisa kembali lagi berhaji bila kesempatan itu datang.

Pemerintah Arab Saudi melalui Wizārat al-Ḥajj wa al-ʿUmrat as-Suʿūdiyyat (Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi) menerbitkan Syahadah (sertifikat) sebagai dokumen simbolis ucapan selamat kepada jamaah atas penyempurnaan rukun Islam yang kelima.

Kali pertama Syahadah ini diterbitkan pada musim Haji 1445 H. Sertifikat ini memuat ucapan selamat resmi dari kementerian atas terlaksananya ibadah haji dan menjadi kenang-kenangan simbolis yang terdokumentasi dari perjalanan spiritual yang dapat disimpan secara digital atau dicetak.

Penting?

Penting tidak penting, tergantung kebutuhan masing-masing jemaah. Menurut penjelasan Kementerian Haji dan Umrah, Sertifikat Penyelesaian Haji 1447 H diberikan kepada dua kelompok utama: jemaah haji (al-ḥujjāj) dan Petugas Layanan Haji (al-ʿāmilūn fī mawsim al-ḥajj).

Setiap orang yang memperoleh izin haji resmi untuk musim haji 1447 H, baik dari dalam Arab Saudi maupun melalui paket haji luar negeri lewat platform Nusuk Hajj, serta telah menyelesaikan manasik dengan baik berhak mendapat sertifikat. Demikian pula bagi para pegawai dan petugas yang bekerja di bawah pengawasannya selama musim haji sebagai bentuk penghargaan atas upaya mereka dalam melayani para tamu Allah sebagai penghargaan dan apresiasi.

Karena sifatnya hak—bukan kewajiban—maka setiap jemaah atau petugas bebas memilih haknya untuk mengambil sertifikat ini atau mengabaikannya sama sekali. Tidak pula ada keharusan untuk mengambil dan tidak pula terkena sanksi bagi yang mengabaikan. Jadi, ini bukan soal lucu atau tidak lucu dan bukan perbandingan etik haji disepadankan dengan kursus hanya karena selembar dokumen sertifikat.

Apakah sertifikat ini mengurangi keikhlasan berhaji?

Bisa ya, bisa tidak. Bila sertifikat itu dipamer-pamerkan dengan niat untuk diketahui banyak orang dan berharap pujian, boleh jadi ada unsur riya di sana. Namun, bila dokumen sertifikat itu disimpan rapi untuk diri sendiri lalu satu waktu berguna untuk syarat administrasi yang berhubungan dengan keabsahan mengikuti suatu program, bahkan sertifikat ini bisa menjadi keberkahan tersendiri.

Bila diukur dengan soal keikhlasan, ada yang lebih menohok untuk direnungkan dari sekadar penting dan tidak pentingnya sertifikat haji pemerintah Saudi. Sebuah artikel berjudul “Al-ḥajj fī zamani al-kāmīrā.. bayna al-ikhlāṣ wa al-istiʿrāḍ”: Haji di Era Kamera: Antara Keikhlasan dan Pencitraan. Rasanya, hampir tidak ada jemaah haji yang lolos dari argumentasi artikel yang dipublikasi pada 2026 oleh Muḥarrir al-Islām wa al-Ḥayāt.

Rasanya, dua paragraf pertama artikel ini saja sudah menampar wajah menjadi memerah menahan malu yang sangat. Bagi orang yang wara, boleh jadi rasa malunya di hadapan Allah jauh lebih dalam daripada rasa malu pada dirinya sendiri dan orang lain gara-gara kamera itu.

Malāyīnu aṣ-ṣuwari nutābi‘uhā ‘alā syabakāti at-tawāṣuli al-ijtimā‘iyyi liḥujjājin yu’addūna manāsikahum, baynamā fī yadi mu‘ẓamihim hātifun yusajjilu fīhi bidiqqatin kulla ḥarakah, ṣāra al-masyhadu ma’lūfan; du‘ā’un yultaqaṭu fī muwājahati al-ka‘bati aw mustadbiran iyyāhā, wa khusyū‘un yu‘ādu tartībuhu liyatanāsaba ma‘a jawdati al-maqṭa‘i, wa laḥẓatun bayna al-‘abdi wa rabbihi tataḥawwalu ilā laqṭatin qābilatin li an-nasyri, kamaqṭa‘in yu‘ādu, aw ṣūratin limilaffin syakhṣiyyin.

Inna asy-syaʿīrata allatī kāna yaḥriṣu as-sābiqūna ʿalā ikhfāʾihā, lam yaʿudi al-muslimu muktafiyan biʿaysyihā, bal aṣbaḥat qābilatan li an-nasyri, wa tubatstsu laḥẓatan bilaḥẓah, liyabruza suʾālun yajibu an yuqliqa kulla muʾaddin litilka asy-syaʿīrati al-ghāliyah: hal naʿīsyu al-ʿibādah kamā yuḥibbuhā Allāhu, am naʿriḍuhā ʿalā al-khalqi linukarrama bihā minhum?

Jutaan foto kita lihat di media sosial tentang para jamaah haji yang sedang menunaikan manasik mereka. Sementara di tangan kebanyakan dari mereka telepon genggam yang merekam setiap aktivitas dengan cermat. Pemandangan ini telah menjadi hal yang biasa: doa yang diabadikan di hadapan Ka'bah atau bahkan membelakanginya, kekhusyukan yang ditata ulang agar sesuai dengan kualitas video, dan momen antara seorang hamba dengan Tuhannya berubah menjadi gambar yang siap dipublikasikan, baik sebagai video yang diputar ulang maupun foto profil.

Sesungguhnya ibadah yang dahulu dijaga oleh generasi terdahulu untuk disembunyikan itu, kini seorang muslim tidak lagi merasa cukup hanya dengan menjalaninya, melainkan telah menjadi sesuatu yang dapat dipublikasikan dan disiarkan dari waktu ke waktu. Maka muncullah pertanyaan yang seharusnya menggelisahkan setiap pelaksana ibadah yang mulia ini: apakah kita menjalani ibadah sebagaimana yang dicintai Allah, ataukah kita mempertontonkannya kepada manusia agar memperoleh penghormatan dari mereka?
Apa hati tidak terasa remuk redam membaca narasi seperti ini?

Akan tetapi, artikel ini menjelaskan problem secara seimbang. Pada paragraf ke-10, ditulis di sana:

Hal kullu nasyrin riyāʾun?

Wa at-taʿmīmu fī kulli masʾalatin khaṭaʾun bālighun, falaysa kullu nasyrin liʿibādatin riyāʾan, fahunāka al-katsīru mina al-umūri al-makhfiyyati lā yaʿlamuhā illā Allāhu taʿālā wa ṣāḥibu al-ʿibādati nafsuhu, faqad yansyuruhā li at-tadzkīri bihā, wa qad yansyuruhā li at-tasyjīʿi ʿalayhā, wa qad takūnu musyārakatan minhu litajribatin ghayyarat min nafsihi ījābiyyan fa-aḥabba an yusyārika bihā ikhwānahu.

Apakah setiap publikasi itu riya?

Menggeneralisasi setiap persoalan adalah suatu kesalahan besar. Tidak setiap publikasi ibadah merupakan riya. Ada banyak perkara yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta'ala dan pelaku ibadah itu sendiri. Seseorang mungkin mempublikasikannya untuk mengingatkan orang lain, mendorong mereka melakukan kebaikan, atau berbagi pengalaman yang telah mengubah dirinya secara positif sehingga ia ingin membagikannya kepada saudara-saudaranya.
Membangun keadaban dan peradaban sebagai salah satu sukses haji rasanya teramat berat. Beratnya seperti memindahkan gunung. Berat karena harus memelihara nilai keikhlasan berhaji di satut sisi, di sisi yang lain berat karena harus mengemban misi keadaban dan peradaban sebagai bagian dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. 

Keadaban dan peradaban itu hanyalah makna lain rahmatan lil alamin dari semu ritual ibadah yang dtegakkan seorang muslimIa harus tercermin dalam setiap sisi dari pribadi orang yang sudah berikrar syahadat, khusyuk dalam shalat, dawam puasa, ringan dalam zakat, dan mabrur dalam haji.

Allāhumma aʿinnī ʿalā dzikrika wa syukrika wa ḥusni ʿibādatik.
Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.

Ya Allah, jika dalam berhaji kemarin kami lalai dan lupa, maafkanlah. Jika kami sengaja, ampunkanlah. Dengan segala kedhaifan, terimalah segala amalan-amalan haji kami ini. Jadikanlah kami haji yang mabrur. Aamiin.


Depok, Sabtu, 12 Muharam 1448 H / 27 Juni 2026 M.
Menikmati hari kedua di Tanah Air.

--------
Rujukan:
https://mugtama.com/articles/الحج_في_زمن_الكاميرا_بين_ال_خلاص_والاستعراض
https://rahhal.wego.com/blog/شهادة-إتمام-الحج-1447-نسك-إلكترونيا/

Senin, 22 Juni 2026

Komik Kiai Kocak: Coming Soon

Screenshoot dari salah satu judul pada naskah psd ilustrator

Karena itu, klaim bahwa gerakan Islam Liberal diperlukan untuk menghadirkan Islam tetap segar dan relevan dengan tuntutan zaman hanya omong kosong belaka.

Kiai Adung belum mati.

Tokoh fiksi yang dikenal pembaca buku Kiai Kocak Vs Liberal sebagai kiai kolot, jail, dan ngeyel itu masih menyimpan energi untuk melawan liberalisme. Dan, seperti biasa, Kiai Adung—karakter Kiai Kocak ini—menanggapinya dengan kocak, jail, dan logis.

Dahulu, paham liberal digaungkan secara terbuka oleh para pengusungnya melalui tema-tema seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme alias paham 'Sepilis'. Gerakan ini dimotori oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Mereka seolah merebut mikrofon gerakan Islam lalu bernyanyi lagu dengan genre 'Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam'.

Secara institusional, bolehlah disebut bahwa JIL kini hanya tinggal pusaranya saja. Setelah lembaga donor yang membiayai periuk nasi aktivis JIL berhenti mengucurkan dana, gaung gerakan itu perlahan menghilang dari ruang publik. Karena dasar motivasi JIL mengasong paham Islam Liberal memang mencari duit, maka ketika subsidi dicabut, ya wasalam.

Satu waktu—usai acara Bedah Buku Kyai Kocak vs Liberal di PT. LG, Cibitung, Bekasi, pada Selasa, 28 Mei 2013—seorang aktivis dakwah di perusahaan itu curhat kepada saya. Aktivis dakwah ini mengaku lulusan Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah Filsafat satu kelas dengan beberapa pentolan JIL Dia bilang begini:

"Mereka itu jadi liberal karena takut jadi sarjana 'Madesu' alias sarjana 'Masa Depan Suram'. Uangnya besar dari lembaga donor."

Begitulah bunyinya. Karena itu, klaim bahwa gerakan Islam Liberal diperlukan untuk menghadirkan Islam tetap segar dan relevan dengan tuntutan zaman hanya omong kosong belaka.

Mencermati perkembangan terakhir, aroma pemikiran liberal tidak lagi disuarakan oleh JIL karena jaringan ini sudah 'almarhum'. Gagasan liberal lalu berpindah tangan kepada para buzzer yang gemar memancing di air keruh sambil menempel pada kekuasaan. Beitulah cara mereka bertahan hidup.

Para buzzer ini gemar melempar isu, memancing perdebatan, serta menebar provokasi yang memecah belah anak bangsa—sering memainkan isu-isu SARA. Mereka kerap bicara soal shalat, tafsir Al-Qur'an, masalah akidah Islam secara serampangan, bahkan kerap menyerang Islam. 

"Emang pantes, buzzer model si Ade Armando ngomong tafsir dan menyebut kagak ada perintah shalat lima waktu dalam Qur'an? La coba itu!"

Kiai Adung gerah dan tidak bisa lagi hanya duduk sambil menyeruput kopi menyaksikan kelakuan mereka. 

"Awas lu, ye! Ini kagak bisa didiemin. Tuman!" kata Kiai Adung.

Namun, aksi Kiai Adung kali ini berbeda. Ia tampil lebih hidup, lebih greget, dan lebih visual. Jika kemarin aksi-aksi Kiai Kocak ini hanya dinikmati dalam narasi fiksi yang mampu merebut perhatian pembaca dari berbagai kalangan—bahkan hingga anak-anak sekolah dasar—kali ini Kiai Adung hadir dalam bentuk komik. Boleh jadi, respons pembaca akan jauh lebih antusias. Semoga demikian.

Komik Kiai Kocak yang akan segera hadir ini bak pengobat rindu fans Kiai Adung. Beberapa waktu ke belakang, banyak pembaca bertanya kapan seri Kiai Kocak terbaru akan terbit kembali. Semoga saja Kiai Kocak versi komik ini mengobati kerinduan mereka yang sudah lama terpendam.

Anda penasaran? Saya juga.

Pelataran Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah
Senin, 06 Muharram 1448 H/22 Juni 2026 M.