Indonesia itu, apa yang diomong dan yang dikerjakan, beda.
Arahan Prof. Mahsusi runtut—rapi, harmonis, dan koheren. Paparan seperti ini enak diikuti. Karena arahan Prof. Mahsusi yang demikian itu, rugi bila audiens gagal menangkap substansi yang beliau sampaikan.
Sebagai guru dan penikmat sup, kata saya, nih, bila diibaratkan sajian sup, arahan beliau itu isinya daging semua. Kuahnya gurih pula sampai tetes yang terakhir. Karena itu, saya tidak berani mengolahnya lagi dengan ragam bahasa tulis saya yang masih carut marut di sini. Nanti, hasilnya malah hidangan sup yang cita rasanya tidak karu-karuan, rasa sup bukan, soto bukan, lodeh juga bukan. Jadi, daripada hasilnya hidangan baru yang cita rasanya rasa “bukan-bukan”, ‘gak, ah. Saya mau fokus pada kelakarnya Gus Dur saja.
Kelakarnya Gus Dur yang di-repeat Prof. Mahsusi itu menohok banget. Saya bukan hanya dapat sisi humornya, melainkan pelajaran pahit berharga meskipun harus ditelan sambil terkekeh. Bila pahit itu dirasa-rasa sambil memandangi bangunan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta kemarin-kemarin lebih sedikit, tak selera lagi terkekeh selucu apa pun humornya Gus Dur diceritakan.
Saya ulang humor Gus Dur sekali lagi di sini seperti yang dibawakan Prof. Mahsusi dengan sedikit perubahan redaksi dan tambahan karakter seorang wartawan bernama Aje.
Konon, ada 4 macam sifat bangsa dari seluruh dunia, kata Gus Dur kepada Aje saat mereka berbincang sambil ngopi-ngopi.
“Apa saja 4 sifat bangsa-bangsa itu, Gus,” Aje bertanya mulai menggali.
“Sedikit bicara, sedikit kerja, Nigeria dan Angola. Sedikit bicara, banyak kerja, Jepang dan Korsel. Banyak bicara, banyak kerja, Amerika, China. Sedangkan yang banyak bicara, sedikit kerja, Pakistan, India,” kata Gus Dur.
Aje penasaran, sebab nama Indonesia tidak disebut.
“Indonesia, masuk yang mana, Gus?” tanya Aje penasaran sambil menebak-nebak Indonesia masuk kriteria yang mana.
Gus Dur diam sebentar, lalu menjawab: “Tidak bisa dimasukkan di antara yang empat itu,” kata Gus Dur.
“Loh, kenapa Gus?”
“Indonesia itu, apa yang diomong dan yang dikerjakan, beda.”
Aje keselek, kopinya tumpah dari cangkir karena tak tahan menahan tawa riang dari hebatnya sense of humor-nya Gus Dur.|
Meskipun Prof. Mahsusi tidak memberikan syarah secara khusus atas humor Gus Dur ini, saya kok percaya, pimpinan dan guru-guru Madrasah Pembangunan mengerti, setidaknya menebak-nebak pesan dari balik humor itu untuk dimengerti.
Bila saya ditanya, apa pesan di balik humor Gus Dur itu dalam konteks berbangsa, maka saya jawab begini. Pertama, pentingnya integritas dan kepatuhan pada janji. Kritik terbesar dari humor ini tertuju pada ketidakselarasan antara retorika dan realitas. Banyak janji atau wacana politik yang diumbar ke publik sering kali berbanding terbalik dengan pelaksanaan di lapangan.
Kedua, kritik terhadap budaya "inconsistencies" dan hipokrisi. Gus Dur menyentil kebiasaan bersikap tidak konsisten, di mana apa yang diucapkan di depan publik sering kali berbeda dengan tindakan nyata atau agenda terselubung di belakangnya.
Ketiga, otokritik dengan pendekatan jenaka. Gus Dur teramat cerdas dalam menyampaikan otokritik bangsa tanpa kesan menggurui atau menghakimi. Melalui satire, beliau mengajak kita untuk berefleksi diri dan tertawa atas kekurangan kita, sekaligus menjadi pengingat agar terus membenahi karakter bangsa.
Masalahnya sekarang, bagaimana membaca pesan humor Gus Dur itu pada postur Madrasah Pembangunan hari ini. Sebab, boleh jadi Prof. Mahsusi sedang mengajak audiens berpikir mengapa beliau merasa perlu mengutipnya pada pengarahan kemarin.|
Prof. Mahsusi memang ada menyinggung empat sifat yang harus tumbuh dan menjadi karakter untuk membesarkan Madrasah Pembangunan, yakni Fathanah, Amanah, Siddiq, dan Tabligh. Boleh jadi, karena dunia pendidikan dan pengajaran adalah dunia ilmu, dakwah, dan pencerahan umat melanjutkan misi kenabian, maka relevan sekali spiritnya adalah empat karakter seorang rasul yang beliau jadikan model. Dalam konteks manusia biasa, empat karakter ini bisa dibahasakan dalam dua kata: profesionalisme dan integritas.
Selain itu, Prof. Mahsusi menggarisbawahi, bahwa kemajuan sebuah lembaga ditopang oleh empat pilar operasional: Inovasi (perubahan berkelanjutan ke arah yang lebih baik), Digitalisasi (pemanfaatan teknologi secara efektif dalam pembelajaran), Modernisasi (adaptif terhadap perkembangan zaman serta menjaga kesopanan dan kerapian penampilan), serta Keislaman (tetap berakar kuat pada nilai-nilai agama sebagai pedoman keselamatan dunia dan akhirat).
Bagi rekan sejawat Madrasah Pembangunan yang ingin menangkap secara utuh pesan Prof. Mahsusi kemarin yang runtut dan “daging” semua, minta saja rekamannya pada manajemen. Jangan percaya tulisan ini, “syirik”.
Peace!
Senin, 14 September 2026.
Ruang Guru, MTs. Pembangunan UIN Jakarta.


.png)


.png)

