![]() |
Ilustrasi milik: https://www.goodnewsfromindonesia.id/ |
Jiwa merdeka jauh lebih penting daripada kebebasan seremoni.
Beragam permainan hiburan dan lomba-lomba marak tiap kali Hari Kemerdekaan dirayakan. Boleh? Boleh —dalam bahasa agama hukumnya mubah—asalkan tidak mencederai norma, kepatutan, dan moral. Yang paling penting —sayangnya poin ini sering dilupakan—hiburan dan lomba-lomba itu punya muatan edukasi.
Islam tidak melarang secara ketat soal lomba dan hiburan selama ia tidak merusak akidah, tidak melanggar syariat, dan jelas batas-batas halal dan haramnya. Silakan menggelar lomba dan menghadirkan hiburan sepanjang ia sehat dalam timbangan syariat, norma, kepatutan, dan moral. Selesai.
Momen Hari Kemerdekaan memang identik dengan kegembiraan. Dari lapangan kampung sampai lapangan istana, semuanya gembira. Ada musik, joget-joget, dan lomba-lomba. Semuanya senang, semuanya tertawa-tawa.
Dahulu, para pejuang merebut kemerdekaan dengan derai air mata, darah yang tumpah, dan nyawa yang melayang. Lalu, pengorbanan para pahlawan itu dikenang beberapa menit saja saat “Mengheningkan Cipta” pada upacara peringatan 17 Agustus. Dikirimkanlah doa untuk mereka.
Bagi muslim, kiriman doa hening cipta kadang dengan persembahan bacaan sirr surah Al-Fatihah. Lalu, paduan suara atau alunan musik kolosal lagu Mengheningkan Cipta gubahan Truno Prawit mengiring Al-Fatihah itu. Siapa saja bolehlah sekadar bertanya, sejak kapan bacaan sirr surah Al-Fatihah atau doa untuk para syuhada diiringi dengan nyanyian atau musik instrumental?
Sebagian kalangan, prosesi ini dinilai sebagai kearifan lokal. Bacaan sirr surah Al-Fatihah dengan iringan “Mengheningkan Cipta” adalah harmoni antara wahyu sakral dan seni dalam tata upacara. Begitulah sudut pandang masing-masing orang menilai.
Hanya saja air mata, darah, dan nyawa pahlawan itu lalu hilang dalam kenangan sesaat kiriman doa “Mengheningkan Cipta” selesai. Setelah itu, scene berpindah pada euforia. Anak bangsa tenggelam dalam sorak-sorai berbagai tradisi lomba dan pesta Agustusan yang beberapa di antaranya serba hedonis.
Hanya saja air mata, darah, dan nyawa pahlawan itu lalu hilang dalam kenangan sesaat kiriman doa “Mengheningkan Cipta” selesai. Setelah itu, scene berpindah pada euforia. Anak bangsa tenggelam dalam sorak-sorai berbagai tradisi lomba dan pesta Agustusan yang beberapa di antaranya serba hedonis.
Ada juga anak bangsa yang memaknai Peringatan Hari Kemerdekaan itu dengan sepi dari hiruk pikuk duniawi. Ia memulainya dengan berucap “alhamdulillah” telah merdeka lalu berkarya lagi pada masing-masing bidang pekerjaan seperti hari-hari kemarin sebelum Agustusan. Ia punya definisi sendiri atas lomba dan kegembiraan.
Lomba-lomba dalam pesta kemerdekaan layaknya bunga-bunga di pekarangan rumah. Ia dipandang perlu sebagai ornamen memeriahkan dan mempercantik rumah bangsa yang sebelumnya muram karena terjajah. Akan tetapi, ada catatan kritis bilamana lomba itu melibatkan interaksi lawan jenis, bentuk-bentuk lomba yang “berbau seksual”, atau lomba yang menimbulkan kesan merendahkan martabat perempuan.
Lomba-lomba dalam pesta kemerdekaan layaknya bunga-bunga di pekarangan rumah. Ia dipandang perlu sebagai ornamen memeriahkan dan mempercantik rumah bangsa yang sebelumnya muram karena terjajah. Akan tetapi, ada catatan kritis bilamana lomba itu melibatkan interaksi lawan jenis, bentuk-bentuk lomba yang “berbau seksual”, atau lomba yang menimbulkan kesan merendahkan martabat perempuan.
Catatan positif untuk panitia Agustusan yang menghadirkan lomba-lomba bernuansa edukatif, memantik kreativitas, inovasi, patriotisme, dan nalar kritis. Terutama lomba untuk anak-anak usia sekolah, usia di mana otak, hati, dan tangan mereka diberi sentuhan pendidikan, nilai-nilai sosial, menghargai perjuangan jasa-jasa para pahlawan, dan akhlak mulia. Ini lebih substantif. Tentu, lomba-lomba dengan karakter demikian itu diberi nuansa spirit islami sangat patut diapresiasi.
Satu poin lagi soal lomba, soal hadiahnya. Sedianya, lomba-lomba Agustusan itu simbol kerekatan antar sesama anak bangsa. Momen merajut kebersamaan dalam suasana gembira karena merdeka. Meskipun saling bersaing untuk berebut hadiah, hadiah itu nantinya diterima dengan gembira, dengan jiwa merdeka. Karena itu, jangan sampai persoalan hadiah malah membuka “konflik” soal remeh-temeh karena nilai hadiah dipandang tidak sepadan dengan bobot jenis lomba yang dipertandingkan.
Jangan memindahkan “konflik” kolonialisme Belanda dan Jepang yang sudah berlalu itu ke dalam hadiah lomba kemerdekaan. Karena itu, panitia perlu menyediakan keterbukaan informasi soal jenis lomba dan besaran hadiah tiap mata lomba. Pastikan informasi itu sudah diketahui dan dipahami tiap peserta sebelum lomba digelar. Jadikan dia sebagai tafsir tunggal yang menutup pendapat penitia begini, pendapat yang menang lomba begono saat hadiah sudah diterima.
Hal yang paling panting, semeriah apa pun perayaan Hari Kemerdekaan dan segembira apa pun lomba Agustusan dihadirkan, jangan lupakan hakikat kemerdekaan. Jiwa merdeka jauh lebih penting daripada kebebasan seremoni. Bagi seorang muslim, merdeka itu leluasa menerima diri sebagai hamba Allah, bukan hamba seremoni.
“Al-’ubūdiyyatu lillāhi hiya haqīqatul hurriyyah. Fa man lam yata’abbad lahu, kāna ‘ābidan lighayrih”. Penghambaan kepada Allah itu adalah hakikat kemerdekaan. Siapa saja yang tidak menghamba kepada Allah, dia itu budak (terjajah) bagi selain-Nya. Demikian ungkapan Syaikh al-Utsaimin dalam Majmu’ Fatāwa wa Rasāil Fadhīlat al-Syaikh Al-Utsaimin.
Merdeka!!!
Sehari setelah 17 Agustus 2025.
“Al-’ubūdiyyatu lillāhi hiya haqīqatul hurriyyah. Fa man lam yata’abbad lahu, kāna ‘ābidan lighayrih”. Penghambaan kepada Allah itu adalah hakikat kemerdekaan. Siapa saja yang tidak menghamba kepada Allah, dia itu budak (terjajah) bagi selain-Nya. Demikian ungkapan Syaikh al-Utsaimin dalam Majmu’ Fatāwa wa Rasāil Fadhīlat al-Syaikh Al-Utsaimin.
Merdeka!!!
Sehari setelah 17 Agustus 2025.