"Ngaji Muhammadiyah" Program Kuliah Subuh PRM Ranting Pulo. Foto credit: Abdul Mutaqin |
Pentingnya Identitas
Sebagai muslim, Islam menjadi identitas utama yang tidak tergantikan dengan ideologi apa pun. Maka, “inna ad-dina ‘indallah al-islaam” menjadi harga mati, yakni sebagai keyakinan yang akan dibawa sampai seorang muslim itu mati.
Dalam konteks hubungan sosial, manusia memerlukan identitas primordial yang diikat oleh nilai agama, kebangsaan, suku, ras, atau bahasa. Mereka memerlukan identitas itu untuk memudahkan komunikasi di antara mereka.
Bahkan ada identitas yang lahir dari sekedar hobi, seperti hobi memelihara burung. Ada Kediri Free Flight Community (FFC) misalnya. “Persyarikatan” ini hadir menjadi sarana bagi komunitas atau kumpulan para penghobi burung yang bisa terbang dan kembali pada pemiliknya.
Orang-orang Depok yang suka “memelihara” golok, konon juga punya komunitas, punya identitas, punya “persyarikatan”. Namanya Golok Depok. Untuk menguatkan identitas dan ideologi komunitas ini, Golok Depok merasa perlu menggelar seminar sejarah Golok Depok pada milad ke-2 mereka, Minggu 17 Maret 2019 silam.
Boleh jadi benar apa yang dikatakan ilmuwan muslim kelahiran Saragossa, Spanyol, Abu Bakar Muhammad Ibn Al-Sayigh atau populer dengan panggilan Ibnu Bajjah. Ibnu Bajjah menyebut manusia sebagai ”makhluk sosial”, makhluk yang senang berkumpul, senang “berpersyarikatan”.
Jadi, komunitas itu memang hal yang menyatu dalam kehidupan manusia, seperti fitrah bawaan sejak lahir. Manusia tidak mungkin “meniru” mitologi Tarzan, menyendiri hidup di hutan menjauh dari keramaian. Tarzan saja, pada akhirnya menyatu dalam komunitas hutan bersama monyet wa akhwatuha.
Organisasi Orang Quraisy
Bila sementara ada saudara muslim anti organisasi, yang berpendapat bahwa organisasi itu perkara bid’ah, bisa jadi benar secara semantik. Hanya saja perlu ditegaskan, bid’ahnya organisasi adalah perkara baru pada ranah sosial, ranah mu’amalat duniawiyah, bukan pada perkara ibadah mahdhah yang terlarang.
Tapi, kan bid’ah itu sesat. Betul. Tapi, bid’ah pada ranah sosial atau mu’amalat duniawiyah meskipun tersesat, insya Allah “tersesat ke jalan yang benar, ke jalan shiratal mustaqim”.
Dahulu, kira-kira pada 519 M, Muhammad SAW pernah menjadi anggota organisasi. Nama organisasinya Hilf al-Fudhul. Saat itu usia beliau baru sekira 19 atau 20 tahun. Artinya, Muhammad SAW belum diangkat menjadi nabi.
Hilf al-Fudhul dibentuk pemuka Quraisy karena ulah Ash bin Wail al-Sahmi. Dikisahkan, seorang laki-laki dari Zabid datang ke Makkah dengan membawa barang dagangan, lalu Ash bin Wail membelinya. Akan tetapi, Ash bin Wail menahan hak laki-laki itu. Laki-laki itu lalu meminta pembelaan kepada para sekutu dari Bani Abd al-Dar, Bani Makhzum, Bani Jumah, Bani Sahm, dan Bani 'Ady. Hanya saja mereka tidak mengindahkan permintaan laki-laki ini.
Laki-laki dari Zabid ini kemudian mendaki Jabal Abu Qubais. Di atas gunung ini, dengan suara keras ia meneriakkan syair-syair mengadukan kezaliman yang menimpanya. Zubair bin al-Mutalib yang mengetahui hal itu menghampiri laki-laki ini dan berkata: "Apakah hal ini akan dibiarkan?" Lalu, berkumpul orang-orang mengikat perjanjian. Setelah itu, mereka mendatangi Ash bin Wail dan mengambil paksa hak laki-laki Zabid itu darinya.
Dari peristiwa ini Hilf al-Fudhul dibentuk di rumah Abdullah bin Jud’an at-Taimy. Ia semacam perjanjian beberapa kabilah dari Bani Hasyim, Bani Al-Muthalib, Bani Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, Bani Zuhrah bin Kilab, dan Bani Taim bin Murrah pada 591 M.
Hilf al-Fudhul dan Keanggotaan Muhammad SAW
Cita-cita bersama dari Hilf al-Fudhul berupa kesepakatan untuk berdiri di samping tiap orang yang teraniaya di Makkah serta membelanya. Tiap orang yang berbuat zalim, kezalimannya harus dibalaskan.
Hilf al-Fudhul sendiri artinya ‘perjanjian yang disertai sumpah yang utama’. Nama ini diambil pemuka Quraisy untuk mengenang perserikatan atau persekutuan yang pernah dibentuk oleh tiga orang moyang mereka dari keturunan Jurhum yang masing-masing bernama Fadhal; Fadhal bin Fudhalah; Fadhal bin Wada’ah; dan Fadhal bin al-Harits. Mereka bertiga membentuk persekutuan atau persyarikatan bertujuan untuk membela dan menolong orang yang teraniaya. Hanya saja seiring waktu, persyarikatan itu dilupakan generasi sesudah mereka.
KH. Moenawar Chalil dalam bukunya “Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad ï·º", hal 78, Hilf al-Fudhul disebut sebagai organisasi. Tulis Kiai Chalil, “Perlu diuraikan lebih dahulu sebab timbulnya organisasi yang dinamakan Hilful Fudhul ini agar jelaslah mengapa organisasi ini timbul dalam lingkungan masyarakat Quraisy di Makkah pada masa itu.”
Setelah diangkat menjadi rasul, Muhammad SAW memberikan kesaksian. Dalam Thabaqat Ibn Sa’ad–saya kutip dari handout IQRO Foundation, Sydney, Australia– dari Jubair bin Muth’im berkata, Rasulullah ï·º bersabda, “Tidaklah unta merah lebih aku senangi daripada peristiwa Hilf al-Fudhul yang aku turut serta di rumah Ibnu Jud’an. Jika aku diajak lagi untuk melakukannya, maka akan aku penuhi.”
Dalam riwayat al-Baihaqi, Ibn Katsir, dan al-Qurtubi Rasulullah ï·º bersabda: “Aku menyaksikan peristiwa Hilf al-Fudhul di kediaman Ibnu Jud’an. Ini lebih aku sukai daripada mendapatkan unta merah. Jika aku diajak untuk seperti itu pada saat Islam telah ada, maka akan aku penuhi.”
Hilf al-Fudhul Abad 20
Boleh jadi, bukan sekadar terinspirasi QS. Ali Imran [3] : 103 dan 104 KH Ahmad Dahlan mendirikan persyarikatan Muhammadiyah, tapi beliau sudah khatam membaca soal Hilf al-Fudhul di atas. Kiai Dahlan melihat, kaum muslimin Kauman, dan umumnya muslim nusantara saat itu sedang teraniaya secara ekonomi, politik, agama, dan budaya yang harus ditolong.
Keterjajahan umat yang teramat parah tentu penjajahan budaya. Umat Islam mencampuradukkan praktik ibadah dengan tradisi agama yang sudah ada sebelumnya, terutama animisme. Sehingga animisme ditambah tahayul dan khurafat itulah yang dipandang sebagai ajaran Islam. Menurut catatan Haji Muhammad Syuja’, hanya shalat lima waktu dan puasa saja yang masih merupakan sifat agama Islam yang asli saat itu.
KH Dahlan dibantu murid-murid dan kolega-koleganya bergerak menolong. Pada 1911, saat rapat pembentukan di rumah KH Sangidu, digagaslah komunitas, persyarikatan, atau organisasi agar gerakan teratur rapi bernama "Muhammadiyah". Pengusul nama ”Muhammadiyah” juga tidak lain adalah KH Sangidu sendiri.
Menantu Protagonis
Kiai Sangidu itu siapa? Beliau adalah Kiai Haji Muhammad Sangidu atau Kanjeng Raden Penghulu Haji Muhammad Kamaluddiningrat,Kepala Penghulu Kesultanan Yogyakarta ke-13. Kiai Sangidu dilantik pada 1914 untuk menggantikan penghulu sebelumnya, K.R.P.H. Muhammad Khalil Kamaluddiningrat, mertua Kiai Sangidu yang wafat saat masih menjabat sebagai Penghulu.
Dalam catatan sejarah Muhammadiyah, mertua Kiai Sangidu inilah yang memerintahkan Langgar Kidul dirobohkan sebab arah kiblatnya tidak sama dengan masjid Gedhe Kauman sebagai ekses dari aksi anak-anak muda yang membuat garis putih saf-saf baru di masjid ini. Uniknya, 14 tahun setelah peristiwa perobohan Langgar Kidul itu, rapat pembentukan Muhammadiyah dilangsungkan di rumah menantunya.
Muhammadiyah bergerak menolong kaum mustadh’afin dengan teologi al-Maun-nya. Ia ibarat Hilf al-Fudhul abad 20. Bolehlah setipis ari kita berandai, bila Hilf al-Fudhul yang diapresiasi Muhammad SAW itu ‘sekufu’ dengan Muhammadiyah, maka Nabi terakhir ini mestinya tidak sungkan menjadi anggota Muhammadiyah.
Jadi, warga persyarikatan tidak perlu risau bila organisasi dianggap bid’ah oleh sekelompok orang. Teruslah kuatkan ideologi Muhammadiyah seperti mengikuti Baitul Arqam yang kerap diselenggarakan Persyarikatan.|
Depok, 3 Juli 2024.
Sambil menyesap kopi pagi menghabiskan libur
0 Comments
Posting Komentar